GEMAGAZINE Puasa merupakan kegiatan menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Ibadah ini dilakukan dengan niat menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Hal tersebut dilansir Gemagazine dari situs Kementerian Kesehatan, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Selasa (2/3/2026).

Di balik momen spiritual tersebut, tidak sedikit orang berharap berat badan mereka turun selama menjalankan ibadah puasa. Hal ini terjadi karena tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam jangka waktu tertentu. Akibatnya, sebagian orang menilai berat badan akan otomatis berkurang.

Lantas, benarkah puasa dapat menurunkan berat badan? Untuk memahami hal tersebut, penting mengetahui cara kerja tubuh saat berpuasa. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat memengaruhi perubahan berat badan.

Cara Kerja Tubuh dalam Mengelola Energi Saat Berpuasa

Selama berpuasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme. Perubahan ini dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan. Ketika tubuh tidak menerima asupan makanan, tubuh mulai menggunakan cadangan energi yang tersimpan. Cadangan energi tersebut berasal dari simpanan karbohidrat (glikogen) dan lemak.

Dengan demikian, proses ini dapat membantu menurunkan berat badan. Selain itu, risiko obesitas dan penyakit terkait juga dapat berkurang. Hal tersebut dilansir Gemagazine dari jurnal Kesehatan di Bulan Ramadhan: Pengaruh Puasa terhadap Kesehatan Fisik dan Mental, Selasa (2/3/2026).

Pada fase awal puasa, tubuh masih memiliki cadangan energi. Ketika asupan kalori berhenti, tubuh tidak langsung mengalami kekurangan energi. Sebaliknya, tubuh memanfaatkan cadangan tersebut melalui proses glikogenolisis. Proses ini merupakan pemecahan glikogen menjadi glukosa.

Selanjutnya, saat cadangan energi mulai menipis, tubuh memasuki fase adaptasi yang disebut glukoneogenesis. Pada tahap ini, tubuh membentuk glukosa baru dari sumber selain karbohidrat. Sumber tersebut, misalnya, berasal dari asam amino dan hasil pemecahan lemak.

Pada fase ini, pembakaran lemak meningkat. Selain itu, tubuh mulai menghasilkan badan keton sebagai sumber energi alternatif. Energi ini penting bagi otak. Hal tersebut dilansir Gemagazine dari ANTARA News, Selasa (2/3/2026).

Meski demikian, tidak semua orang mengalami penurunan berat badan selama berpuasa. Sebagian orang justru mengalami kenaikan berat badan.

Mengapa Sebagian Orang Justru Mengalami Kenaikan Berat Badan?

Kenaikan berat badan selama berpuasa sering terjadi karena kebiasaan makan berlebihan saat berbuka. Setelah seharian menahan lapar, sebagian orang cenderung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Akibatnya, keseimbangan gizi sering kali tidak diperhatikan.

Padahal, makan berlebihan dapat memicu gangguan pencernaan, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi lemak. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko penambahan berat badan.

Di sisi lain, pilihan jenis makanan juga memengaruhi perubahan berat badan. Makanan seperti gorengan, hidangan berminyak, serta makanan tinggi gula sering menjadi pilihan saat berbuka puasa. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan tersebut dapat meningkatkan asupan kalori. Akibatnya, tubuh bisa terasa lesu dan mudah lelah.

Sementara itu, asupan makanan tinggi garam saat sahur juga sebaiknya dibatasi. Hal ini karena makanan tinggi garam dapat meningkatkan rasa haus. Hal tersebut dilansir Gemagazine dari jurnal Edukasi Pola Hidup Sehat dan Bugar di Bulan Suci Ramadhan bagi Mahasiswa dan Anak Kos Menggunakan Panduan Gizi Seimbang, Rabu (4/3/2026).

Lalu, jenis makanan seperti apa yang dianjurkan agar berat badan tetap terjaga dan tubuh tetap sehat selama berpuasa?

Tips Agar  Kondisi Tubuh Tetap Terjaga Saat Berpuasa

Menjaga kondisi tubuh selama puasa dapat dimulai dengan tidak melewatkan sahur. Hal ini penting karena sahur menyediakan energi bagi tubuh untuk menjalani aktivitas hingga waktu berbuka.

Oleh karena itu, menu sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat. Selain itu, buah dan sayur juga perlu dikonsumsi agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.

Tidak hanya makanan, asupan cairan yang cukup juga sangat penting. Orang dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar dua sampai tiga liter air per hari. Jumlah tersebut setara dengan delapan gelas air putih. Biasanya, konsumsi air dapat dibagi antara waktu berbuka hingga sahur.

Sebaliknya, minuman seperti kopi, teh, dan minuman bersoda sebaiknya dibatasi. Pasalnya, minuman tersebut memiliki efek peningkatan produksi urin (diuretik) yang dapat memicu kehilangan cairan tubuh.

Selain itu, cara berbuka puasa juga perlu diperhatikan. Disarankan memulai berbuka dengan makanan ringan yang mudah dicerna, seperti kurma, buah, atau air putih. Setelah itu, barulah mengonsumsi makanan utama yang bergizi seimbang.

Terakhir, aktivitas fisik ringan juga dapat dilakukan selama puasa. Berjalan kaki atau olahraga ringan dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.

Dengan demikian, jika pola makan dan gaya hidup sehat diterapkan, puasa tidak hanya menjadi sarana ibadah. Puasa juga dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki pola hidup dan menjaga berat badan secara lebih sehat.

(KAP/DEAR)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *