• Cerpen

    Cuan the Cat of Luck

    Kopi Joy mendapatkan Lowest Rate Coffeeshop versi Wikireview belakangan ini. Jay, si Barista, menatap nanar statistik itu di layar tablet. Bulan lalu, ia menyalahkan pandemi yang membuat semua kedai sepi. Kini, Warmindo sebelah sudah lebih semarak. Akhirnya, disalahkannya posisi kedai yang terhimpit bangunan besar pinggir jalan. Hampir saja ia menyalahkan kakeknya yang mewariskan ruang sempit itu. Jay mengingat betapa dulu ia buta perihal perkopian. Gara-gara warisan itu, Jay terpaksa, tetapi kemudian mencintai dunia kopi. Ditatapnya sendu manekineko-nya, juga pasukan alat seduh yang berbaris kesepian. Mereka pasti rindu bahu-membahu menyeduh tanpa jeda untuk tamu. Baginya, tidak ada tamu sama dengan menahan…

  • Cerpen

    Inyiak Harimau

    “Jangan pernah sebut nama ‘H-a-r-i-m-a-u’. Kau sebut saja Inyiak!” Dua hari yang lalu nenek berbisik dengan nada ketakutan. “Bukankah itu namanya, Nek?” tanyaku penasaran sebab setahuku Inyiak adalah sebutan untuk orang yang sudah tua seperti kakekku, Nyiak Antan. “Alaaah … pokoknya jangan, titik!” Lalu nenek bergegas ke ruang belakang, ke dapur mungkin. Sejak saat itu, tak lagi kupanggil “Harimau”, aku lebih leluasa menyebut “Inyiak”. Ternyata, bukan hanya aku yang harus memanggil begitu. Semua orang kampung di sini punya pemikiran yang sama dengan nenek. Dan aku … ingin tahu asal usulnya. * Nyiak Antan, panggilanku kepada kakek, bukan karena kakekku harimau…

  • Cerpen

    Abah, Cendana, dan Aroma yang Menyeruak

    Daun terakhir milik Abah telah gugur. Bersamaan dengan menyeruaknya aroma cendana yang bercampur tanah. Aku jadi ingat saat pertama kali jatuh cinta. Bukan pada seorang wanita, melainkan pada sebuah aroma. “Bah, ini pohon apa?” tanyaku waktu itu. Aku masih kelas satu SMP dan Abah sedang bergairah sekali menanam pohon. Di halaman belakang rumah, berjejer bibit-bibit pohon dengan bentuk yang sama. Katanya, Abah dapat dari temannya yang tinggal di lain pulau. “Pohon cendana. Ini masih bibit, nanti Abah ajak Arka lihat yang sudah besar.” Aku diajaknya pergi ke lahan hutan milik Abah yang sengaja ditanami pohon cendana. Aroma harum menyegarkan langsung…

  • Cerpen

    Emosi dalam Mimpi

    Suara denting halus terdengar tidak akrab. Hari ini, aku kembali sarapan bersama keluargaku sebelum berangkat kerja. Saat kulongok, mereka sibuk membisu sambil menyendok suap demi suap nasi dan lauk-pauknya. Aneh sekali, rasanya asing meskipun sudah jadi kebiasaanku selama beberapa tahun terakhir. Diamnya mereka justru membuatku tak nyaman. Dimana aturan-aturan dan caci-maki yang biasa kudapat dulu? Waktu kuceritakan pada teman-teman sekantor, mereka bilang aku merindukan masa kecilku. Katanya, aku rindu kehangatan dan celotehan mereka saat aku masih remaja. Jujur, jawaban itu tak memuaskanku sama sekali. Bukannya merasa sesak karena menyadari kesepian, aku justru makin bingung. Kuakui, aku merasa lega dan bebas…

  • Cerpen

    Pelajaran dari Bubur Ayam

    “Bubur ayam diaduk paling enak. No debat!” “Bubur ayam ga diaduk lebih enak, aesthetic lagi. Diaduk bikin ga selera makan. Valid, no debat!” Aku menatap jengah perdebatan dua temanku itu, Kiara dan Saras. Ini hanya bubur. Harganya hanya sepuluh ribu seporsi. Aku yakin sekali setelah ini mereka akan saling mendiamkan. Aku mendengus, kekanakan sekali, batinku. Aku tidak percaya hubungan pertemanan di depanku ini ternyata hanya seharga satu porsi bubur ayam yang hanya akan berujung menjadi kotoran setelah mereka makan. “Aduh, sudah kenapa, sih? Dilihat orang, tuh!” Mereka masih saja berdebat. “Laksmi, kalau kamu tim mana?” tanya mereka kepadaku secara tiba-tiba.…

  • Cerpen

    Standar

    Katanya kecantikan itu bukan segalanya, tapi mana pernah barang jelek dipilih kalo ada barang yang lebih bagus.  At the end of the day, emang fisik yang paling utama. *** Menjadi seorang remaja yang sedang menghadapi masa puber itu sulit banget, rasanya ketika kita mematut diri di depan cermin yang kita lihat hanya seonggok daging dengan banyak kekurangan dimana-mana. Photoshop sudah jadi keahlian bagi semua anak remaja, terutama untukku, seorang perempuan berusia 15 tahun yang sangat peduli dengan fisiknya. Apabila kalian melihat media sosial punyaku, followers ku tidak sampai 500. Aku pernah memposting fotoku setelah ku permak habis-habisan, dan berakhir dengan …