Anak Mentari Indonesia, Cahaya di Kolong Tomang

Foto: Rafaellen Martha Christy

GEMAGAZINE – Siang itu, matahari Jakarta Barat sedang terik-teriknya. Di sudut kolong Tomang, suara deru kendaraan di atas jalan layang bertautan dengan riuh tawa anak-anak yang berkumpul beralaskan seadanya, di tengah kepungan debu dan deretan hunian sempit.

Uli Zainuddin Simbolon, yang akrab disapa Kak Uli, tetap menyambut hari dengan senyum ceria dan penuh semangat untuk mendampingi anak-anak. Sejak September 2009, perempuan ini memilih hadir di ruang-ruang marginal yang kerap luput dari perhatian.

Pendidikan formal mungkin menjanjikan masa depan. Namun, bagi anak-anak di sini, kemampuan membaca dan berhitung dasar saja sudah menjadi modal yang sangat berarti. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan Uli saat melihat langsung realitas anak-anak di kawasan kolong Tomang yang belum menguasai kemampuan baca, tulis, dan berhitung.

Berawal dari mengajar satu keluarga kecil, gerakan swadaya ini perlahan merangkul belasan anak pemulung hingga warga pemukiman sekitar. Kini, Komunitas Anak Mentari Indonesia tumbuh menjadi ruang belajar alternatif yang konsisten mendampingi mereka setiap pekan. Di sanalah Uli merawat asa mereka yang kerap tersisih.

Dari Sudut Redup, Menyalakan Asa Hidup

Langkah Kak Uli bermula dari kegelisahan yang sangat mendasar. Ia menemukan realitas pahit bahwa anak-anak kelas 3 hingga 5 SD di pinggiran Banjir Kanal belum bisa mengeja huruf, apalagi berhitung dasar.

“Saya cuma ingin mereka bisa baca dan hitung dasar. Supaya pas kumpul sama teman-temannya, mereka tidak minder atau merasa tertekan,” jelas Uli.

Dari satu keluarga berisi lima anak, lingkaran kecil itu perlahan membesar, merangkul anak-anak pemulung hingga warga kampung sekitar. Bertahan selama belasan tahun berarti siap berteman dengan ketidakpastian, sebab komunitas ini tercatat sudah empat kali berpindah tempat.

Mereka pernah bertahan di pinggir kali. Banjir bandang sempat menyapu bersih papan tulis dan buku-buku bacaan sebelum mereka bergeser ke bawah arena permainan besi. Selanjutnya, mereka pindah ke kolong rumah pompa yang dipenuhi aroma lumpur dan sampah.

Kini, mereka menempati sudut taman dan pos polisi sebagai lokasi belajar yang paling lama bertahan. Namun, setiap kali hujan turun, kolong jembatan tetap menjadi tempat berteduh yang paling aman. Tempat itu dikenal sebagai Jembatan Kolong Tomang.

“Mereka ini perlu disinari. Supaya nanti, mereka bisa bersinar sendiri di tengah keluarga, sekolah, dan lingkungan mereka,” ujar Uli.

Perubahan paling mendasar justru terjadi pada cara mereka memandang diri sendiri. Sebelumnya, komunitas ini lekat dengan sebutan Along, singkatan dari Anak Kolong. Namun, bagi Kak Uli, nama itu membawa stigma seolah-olah mereka tidak punya masa depan. Bersama para relawan, nama itu diganti menjadi Anak Mentari Indonesia. 

Bertahan di Tengah Ujian Lewat Ketulusan Pendampingan

Mengajar tiap hari Minggu pukul dua siang adalah ujian fisik dan mental. Waktu tersebut merupakan jam-jam rawan kantuk dan lelah. Belum lagi prasangka dari luar, bahwa tidak sedikit orang yang memandang curiga kegiatan tanpa bayaran ini.

Bahkan, komunitas ini pernah dipaksa berhenti selama tiga bulan akibat penolakan dari kelompok tertentu. Ada masa ketika Kak Uli harus mengurus 60 anak sendirian tanpa ada satu pun relawan yang mendampingi.

Namun, setiap kali niat untuk berhenti itu muncul, ingatan Uli selalu tertuju pada kepolosan anak-anak bimbingannya. Wajah-wajah itulah yang berulang kali membuatnya memilih untuk tetap datang.

“Pas lihat muka-muka polos mereka, semangatnya balik lagi. Hujan deras pun mereka tetap jalan datang ke sini. Sebenarnya, yang bikin saya bertahan itu ya mereka,” jelas Uli.

Ada kesepakatan tidak tertulis di sana. Uli merelakan waktu istirahatnya demi mendampingi anak-anak setiap pekan. Mereka pun turut memangkas waktu bermain demi bisa belajar bersama Uli. 

Merawat Impian Tanpa Sekat, Menjangkau yang Dekat

Manfaat dari ruang belajar terbuka ini mengetuk pintu-pintu rumah warga. Bu Siti, orang tua dari Tiara yang duduk di kelas 4 SD, merasakan perubahan nyata pada putrinya. Sikap dan semangat belajar Tiara tumbuh pesat sejak bergabung. Bagi keluarga yang tinggal di petakan sempit pinggiran Tomang, keberadaan komunitas ini adalah berkah yang meringankan beban.

Kenangan yang paling melekat bagi Uli adalah jejak langkah Vina, salah satu murid generasi awal yang dulu sering membantu mencatat presensi saat jumlah relawan masih terbatas. Meski hidup berimpitan di rumah kontrakan kecil bersama tujuh anggota keluarga lainnya, Vina tumbuh menjadi anak yang gigih. Kini, ia sudah mandiri dan bekerja, menjadi bukti nyata bahwa pendampingan yang konsisten mampu mengubah alur hidup seseorang.

Bagi Uli, komunitas ini bukan hanya soal tempat memberi, tetapi juga tempat menerima. Berbagi tidak selalu berurusan dengan uang, sebab senyum, waktu, serta kepedulian menjadi hal yang bernilai sama besarnya. Hal-hal kecil semacam itulah yang justru paling banyak ia terima dari anak-anak selama belasan tahun ini. 

Menatap masa depan, Uli tidak mengumbar janji besar tentang komunitas yang ia rawat. Ia hanya menyimpan satu mimpi sederhana tentang hadirnya sekolah terbuka tanpa dinding tebal maupun atap yang mengurung. Mimpi itu ia pegang perlahan sembari terus menjalani apa yang bisa dilakukan hari ini.

“Saya ingin anak-anak belajar bebas bersatu dengan alam, tanpa tekanan. Pendidikan itu tak boleh cuma urusan buku teks. Literasi itu kunci supaya anak-anak kita punya wawasan luas dan tidak mudah dibodohi,” ujar Uli.

Dari kolong jembatan yang panas dan berdebu itu, satu keyakinan tetap dijaga Uli hingga hari ini: setiap anak berhak disinari tanpa terkecuali. Sekecil apa pun ruang yang tersedia, baginya, itu sudah cukup untuk menumbuhkan asa mereka yang sempat redup.

CLS/AAR

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *