GEMAGAZINE – Lampu-lampu kuning menerangi karya yang terpajang di ruang pameran Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Cahaya tersebut menyirami bingkai-bingkai foto, sementara suara pengunjung terdengar bersahutan di antara ruang pameran yang tidak terlalu padat.
Tak banyak orang yang berdesakan di depan karya. Beberapa pengunjung bergerak dari satu foto ke foto lainnya, menyisakan ruang untuk membaca keterangan yang terpasang di samping karya, sementara yang lain berbincang pelan tentang apa yang mereka lihat.
Di tengah suasana yang tidak terlalu ramai itu, Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2026 membawa satu tema yang menjadi benang merah berbagai karya, Resilience.
Resilience dalam Bingkai
JIPFest 2026 mempertemukan 22 proyek fotografi dari 19 negara. Karya-karya tersebut dipilih dari 408 proposal yang diajukan praktisi dari 58 negara, dengan Resilience menjadi tema yang menaungi festival tahun ini.
Bagi Koordinator Pameran JIPFest 2026, Ario Wicaksono, tema tersebut dekat dengan kehidupan masyarakat yang terus menghadapi perubahan.
“Kayak kita semua, tuh, masyarakat diminta untuk bertahan, diminta untuk adjust terus, diminta untuk berjalan di tengah semua pergolakan dan dinamika yang ada,” ujar Ario.
Baginya, ketangguhan tidak selalu hadir dalam bentuk persoalan besar. Hal tersebut justru dapat ditemukan dalam rutinitas sehari-hari, ketika seseorang bangun pada pagi hari, menjalani aktivitas hingga malam, lalu kembali mengulang rutinitas tersebut pada hari berikutnya.
“Di Indonesia, kita tuh sebenarnya resilience banget. Kita dituntut untuk terus bisa beradaptasi di tengah segala macam kekusutan yang ada,” ujar Ario.
Pemaknaan tentang ketangguhan tersebut kemudian hadir melalui karya-karya yang dipamerkan. Namun, bagi JIPFest, cerita dalam fotografi tidak hanya ditujukan kepada mereka yang memahami dunia fotografi.
Ario menjelaskan, meski kekuatan JIPFest berada pada komunitas dan ekosistem fotografi, festival tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi para fotografer. Ia ingin masyarakat umum juga dapat menikmati karya-karya yang dipamerkan.
Melihat Ketangguhan dari Cerita Masyarakat
Salah satu pengunjung yang datang menikmati karya-karya tersebut adalah Rafi. Ketertarikannya pada fotografi seri membuatnya memperhatikan bagaimana para fotografer mendokumentasikan berbagai hal yang terjadi di tengah masyarakat.
Rafi memperhatikan bahwa sebagian besar karya yang dipamerkan hadir dalam bentuk seri fotografi. Karya-karya tersebut, menurutnya, banyak merekam berbagai peristiwa dan kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Mayoritas karya yang ditampilkan terkait seri fotografi dan mendokumentasikan apa yang terjadi di masyarakat,” kata Rafi. JIPFest menjadi pengalaman pertamanya mengunjungi festival fotografi berskala besar dalam bentuk pameran.
Dua karya menarik perhatiannya, salah satunya berasal dari Eropa dan mengangkat isu perlindungan perempuan, sementara karya lainnya berasal dari Tibet dan membahas akses terhadap rumah sakit. Cerita dari Tibet membuat Rafi melihat bagaimana masyarakat tetap bertahan dalam kondisi yang terbatas.
Rafi menjelaskan bahwa masyarakat di daerah tersebut harus menempuh perjalanan sekitar lima jam untuk mencapai rumah sakit karena lokasi mereka yang terpencil. Meski menghadapi keterbatasan tersebut, masyarakat tetap bertahan secara sosial dengan mempertahankan kultur mereka.
Ketika Foto Menjadi Cara Bercerita
Cerita tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana foto dapat memperlihatkan kehidupan yang mungkin tidak ditemui pengunjung dalam kesehariannya. Bagi Rafi, sebuah foto tidak hanya berhenti sebagai gambar yang dipajang di dinding, tetapi juga membawa cerita di baliknya.
“Untuk bercerita itu nggak perlu lewat tulisan, tapi cukup dengan kamu mengabadikan momennya,” pungkas Rafi. Cerita itu kemudian berpindah dari fotografer kepada orang-orang yang berdiri di hadapan karya.
Di bawah cahaya lampu kuning Gedung Trisno Soemardjo, bingkai-bingkai itu tetap membawa cerita masing-masing. Suara pengunjung yang bersahutan mengisi ruang pameran yang tidak terlalu padat, sementara satu per satu karya terus menjadi tempat orang berhenti, melihat, dan memaknai.
Pada akhirnya, karya-karya di JIPFest 2026 menunjukkan bahwa resilience dapat dilihat dari berbagai pengalaman manusia. Melalui fotografi, cerita tentang cara manusia bertahan dan beradaptasi dapat disampaikan kepada pengunjung.
(AAR/AA)
