Foto: Rayya Khaira Utami

GEMAGAZINE – Taman Tebet Eco Park di Jakarta Selatan selalu menjadi ruang terbuka yang ramah bagi siapa saja untuk mengekspresikan diri. Taman ini kerap menjadi saksi lahirnya deretan memori baru dari hari ke hari.

Di antara riuhnya aktivitas taman, samar-samar terdengar alunan musik khas India berpadu dengan sorak-sorai ceria para penari. Suara itu seolah memanggil siapa saja yang melintas untuk singgah, menonton, atau bahkan ikut melangkah.

Malam itu, sebanyak 15 wanita tampak kompak menyelaraskan gerakan tubuh mengikuti irama lagu yang memikat. Angka ini terbilang sedikit, sebab pada Minggu malam biasanya selasar taman dipadati lebih dari 20 orang dari berbagai usia yang menari bersama. Suara langkah dan tawa mereka benar-benar menghidupkan suasana taman malam itu.

Ragu Berujung Tersentuh

Memulai kembali alur hidup diiringi lagu India ternyata membawa keberkahan tersendiri bagi Gusmi Arini, pelatih sekaligus pendiri kelas dance tersebut. Kini, ia berdiri tegak di depan kelompok penari di selasar taman sebagai instruktur.

Sesekali Arini tertawa geli melihat tingkah anak didiknya yang sibuk berganti kostum sambil saling melempar pertanyaan. Meski secara usia mayoritas muridnya jauh lebih tua darinya, energi dan semangat yang mereka tunjukkan justru melampaui anak muda.

Sama sekali tak pernah terlintas di benak Arini bahwa hidupnya akan melangkah sejauh ini. Bermula dari kecintaannya pada seni teater dan tari tradisional yang kerap ia bagikan di media sosial, Arini justru dihujani permintaan warganet yang ingin belajar tari India dengannya.

Rasa ragu dan bingung sempat menyelimuti Arini, sebab ia tak yakin punya kapasitas untuk mengajar. Namun, desakan di kolom komentar makin hari makin ramai hingga akhirnya sebuah pesan singkat di media sosial meruntuhkan keraguannya.

“Kak, aku punya penyakit yang tidak tahu kapan sembuhnya. Aku mau menghabiskan sisa hidupku dengan melakukan hal yang aku impikan, yaitu menari India ini,” ujar Arini.

Pesan itu menyentuh bagian terdalam hati Arini dan sejak saat itu pendiriannya bulat. Pada akhir 2024, ia resmi mendirikan kelas tari bertajuk ‘Khush Dance Class’, dengan kata khush yang berarti bahagia dalam bahasa Hindi.

Ruang Ekspresi Positif

Menari di selasar terbuka tentu menyajikan tantangan tersendiri, sebab rasa canggung dan malu kerap membayangi para anggota di awal. Menari di bawah tatapan pengunjung taman yang lalu-lalang, merekam, atau sekadar menatap heran membutuhkan keberanian besar.

Ina, salah satu anggota yang menggemari tarian India sejak kecil, mengakui hal tersebut. Namun, dorongan dan kehangatan dari Arini perlahan meluluhkan rasa minder itu.

“Awalnya canggung banget. Cuma Kak Rini support banget, jadi terasa ‘Ah ya sudahlah, kita tidak usah menengok ke mana-mana’,” jelas Ina.

Dari yang awalnya hanya berani lip-sync di TikTok, kini Ina tampil percaya diri menari di hadapan publik. Proses mengikis rasa malu itu lambat laun berubah menjadi terapi jiwa bagi dirinya.

Selasar taman pun menjelma menjadi ruang bertukar energi positif bagi para anggota dari beragam usia. Alunan kreasi Bollywood bukan lagi sekadar olah tubuh, melainkan sarana melepas penat, menyegarkan pikiran, dan mempererat silaturahmi.

Belajar Memahami

Bagi Arini, mengayomi puluhan anggota dengan latar belakang dan usia yang terpaut jauh di atasnya bukan perkara mudah. Latar belakang anggota yang mayoritas bukan penari profesional menuntutnya untuk terus mengasah kesabaran dalam merangkul berbagai karakter.

Meski begitu, buah dari ketekunan itu kian terasa manis. Bermula di selasar taman dengan tarif iuran terjangkau, kini muridnya berkembang hingga puluhan orang yang tersebar di kelas offline, online, maupun private.

Beberapa anggota bahkan sudah berani tampil secara mandiri di acara-acara hajatan di lingkungan tempat tinggal mereka. Langkah kelompok ini pun tak berhenti di selasar taman.

Arini menyimpan mimpi besar untuk membawa anak didik dan komunitasnya melangkah lebih jauh. Ia berharap kelak mereka memiliki panggung atau studio sendiri, tempat masyarakat bisa bersantai di akhir pekan sambil menikmati sajian tari India yang penuh warna.

Kala rembulan kian terang membingkai langit malam yang pekat, selasar taman tak lantas sepi. Meski sesi latihan resmi telah usai, para anggota enggan beranjak dan tetap melanjutkan tarian dengan penuh sukacita.

Mereka mengabadikan setiap momen hangat itu dalam rekaman kamera dan membagikannya di media sosial. Riuh tawa terus menggema di sudut taman malam itu.

Pada akhirnya, yang mereka bawa pulang bukan sekadar hafalan gerakan tari, melainkan bongkahan rasa bahagia yang akan terus menyala dan menghangatkan langkah mereka kembali ke rutinitas esok hari.

AAR/MAKT

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *