Sengketa Malvinas Kembali Terangkat Usai Piala Dunia

GEMAGAZINE – Sengketa Kepulauan Malvinas atau yang dikenal sebagai Falkland kembali mengemuka setelah pemain tim nasional Argentina membentangkan spanduk berisi klaim atas wilayah tersebut usai laga semifinal Piala Dunia 2026.

Aksi tersebut dinilai kembali memantik ketegangan sengketa kedaulatan lama antara kedua negara di Samudra Atlantik Selatan. Saat ini, komite disiplin independen tengah mendalami laporan resmi pertandingan untuk menentukan potensi sanksi. FIFA menegaskan langkah lanjutan baru akan diambil setelah proses penilaian berakhir.

Pemerintah Kepulauan Falkland turut menyatakan keberatan atas aksi yang dilakukan pemain tim nasional Argentina dan berharap FIFA dapat memberikan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku, dilansir GEMAGAZINE dari situs berita BBC, Senin (20/7/2026). Isu ini kembali mencuat karena Argentina dan Inggris masih memiliki klaim yang saling bertentangan atas status Kepulauan Falkland.

Awal Sengketa Kedaulatan Malvinas

Kepulauan Malvinas terdiri dari dua pulau utama, yaitu East Falkland dan West Falkland, serta ratusan pulau kecil lainnya. Inggris mengambil alih pengelolaan wilayah itu pada 1833 hingga kini mempertahankan klaim kedaulatannya atas Kepulauan Falkland.

Sementara itu, Argentina mengeklaim Malvinas sebagai wilayah yang diwarisi setelah memperoleh kemerdekaan dari bangsa Spanyol pada 1816. Pemerintah Argentina menilai penguasaan Inggris pada 1833 merupakan tindakan yang tidak sah, sedangkan Inggris menyatakan penduduk Falkland memiliki hak untuk menentukan masa depan wilayahnya.

Perbedaan pandangan mengenai status wilayah ini juga terlihat dalam referendum 2013. Sebanyak 99,8% orang memilih tetap menjadi Wilayah Seberang Laut Britania Raya. Namun, Argentina menolak hasilnya karena menganggap persoalan utama yang harus diselesaikan adalah sengketa kedaulatan antarnegara, dilansir GEMAGAZINE dari situs berita Reuters, Senin (20/7/2026).

Konflik Malvinas dan Upaya Diplomasi

Ketegangan Argentina dan Inggris mencapai puncaknya pada April 1982 ketika pemerintahan militer Argentina mengirim pasukan demi menguasai Kepulauan Malvinas. Inggris kemudian mengerahkan kekuatan militernya dan kembali menguasai wilayah itu setelah perang berlangsung selama 74 hari hingga akhirnya Argentina menyerah pada Juni 1982.

Berakhirnya perang tidak serta-merta menyelesaikan sengketa kedaulatan Kepulauan Malvinas. Kedua negara ini kembali menjalin hubungan diplomatik setelah konflik, tetapi pembahasan mengenai status kedaulatan wilayah masih belum menemukan kesepakatan.

Pada April 2026, pemerintah Argentina kembali menyatakan kesediaannya untuk melanjutkan perundingan bilateral dengan Inggris tentang sengketa kedaulatan Kepulauan Malvinas. Argentina menyebut negosiasi ini bertujuan mencari solusi damai serta definitif atas persoalan itu, dilansir GEMAGAZINE dari situs berita Reuters, Senin (20/7/2026).

Hingga saat ini, belum terdapat kesepakatan akhir mengenai status Kepulauan Malvinas. Penyelesaian konflik masih bergantung pada proses diplomasi antara Argentina dan Inggris dengan mempertimbangkan aspek sejarah serta hukum internasional.

(CE/ASN)

By

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *