GEMAGAZINE – Tahun 2026 ini, turnamen sepak bola internasional telah memasuki edisi ke-23. Turnamen ini akan diselenggarakan pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
Piala Dunia 2026 akan mengukir sejarah baru karena diselenggarakan oleh tiga negara tuan rumah sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, jumlah peserta pada putaran final juga bertambah dari 32 menjadi 48 negara peserta. Dengan perubahan tersebut, Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi salah satu edisi paling bersejarah dalam perjalanan turnamen ini.
Namun, di balik kemegahan tersebut, bayang-bayang polemik di Meksiko menjadi sorotan dunia. Gelombang protes yang pernah terjadi sebelumnya seolah membuka mata dunia pada kesenjangan ekonomi yang dialami oleh negara tersebut.
Harga Tiket yang Terlalu Mahal
Dilansir Gemagazine dari situs Antara, Selasa (16/6/2026), FIFA menetapkan harga tiket mulai dari 60 dolar AS (sekitar Rp986 ribu) untuk laga fase grup, hingga 6.730 dolar AS (sekitar Rp110,6 juta) untuk final. Nominal tersebut tergolong mahal, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara.
Kritik pun bermunculan dari berbagai kalangan karena seharusnya Piala Dunia seharusnya menjadi “pesta rakyat”. Namun, dengan harga tiket yang tinggi, Piala Dunia 2026 justru dinilai menjadi ajang eksklusif yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat kelas atas.
Di tengah persoalan sosial dan ekonomi yang melanda rakyat Meksiko, kebijakan ini tentunya memicu kritik tajam bagi penyelenggara. Jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar, harga tiket yang ditetapkan untuk edisi 2026 ini melonjak jauh lebih tinggi.
Demo Guru yang Memblokir Akses Jalan Stadion
Selain menuai kritik akibat mahalnya harga tiket, turnamen ini juga diwarnai berbagai polemik lain menjelang pembukaannya. Salah satunya adalah aksi demonstrasi yang dilakukan para guru di ibu kota Meksiko.
Sejumlah guru menggelar aksi demonstrasi sepekan sebelum pembukaan Piala Dunia 2026. Mereka menutup jalan masuk ke studio dan menimbulkan kontroversi terkait tuntutan yang diajukan. Banyak pihak yang menilai bahwa tuntutan tersebut lebih mendesak daripada penyelenggaraan Piala Dunia.
Dilansir Gemagazine dari situs Reuters, Selasa (16/6/2026), para demonstran menutup sejumlah jalan sehingga menghambat pekerjaan konstruksi. Aksi protes tersebut berpusat di dua jalan utama, yaitu Insurgentes dan Paseo de la Reforma.
Aksi protes para guru tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pebisnis dan investor terhadap keberlangsungan Piala Dunia 2026 di Meksiko. Para aktivis menyatakan bahwa aksi tersebut akan terus meluas apabila Presiden Claudia Sheinbaum tidak kunjung menanggapi tuntutan mereka terkait kenaikan gaji.
Pemindahan Massal dan Penggusuran Informal
Selain berbagai kontroversi yang mengiringi penyelenggaraan Piala Dunia 2026, Meksiko juga menghadapi persoalan sosial yang kompleks. Kondisi tersebut turut memicu perpindahan tempat tinggal secara massal dan penggusuran di sejumlah wilayah.
Terdapat dua faktor utama yang melatarbelakangi fenomena tersebut, yaitu kekerasan yang dipicu oleh aktivitas kartel narkoba serta penggusuran di kawasan perkotaan akibat meningkatnya harga sewa.
Alih-alih berfokus pada isu serius yang tengah dihadapi masyarakat, pemerintah dinilai lebih memprioritaskan persiapan penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Kondisi tersebut memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Penggusuran paksa dinilai merugikan warga dan menjadi persoalan yang harus segera ditangani.
Solusi sementara yang telah diberikan adalah reformasi undang-undang perumahan yang dirancang untuk melindungi rakyat dari penggusuran paksa. Kebijakan ini diharapkan dapat meredam kemarahan publik. Namun, sejumlah pihak menilai langkah tersebut hanyalah upaya “penundaan masalah” karena belum mampu menyelesaikan akar persoalan yang dihadapi masyarakat.
Piala Dunia 2026 menjadi salah satu ajang sepak bola dunia yang paling dinantikan. Namun, di balik kemeriahannya, isu-isu sosial masih menjadi tantangan bagi pemerintah setempat.
Oleh karena itu, peran pemerintah sebagai tuan rumah sangat diperlukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan tersebut demi menjamin kelancaran penyelenggaraan ajang sepak bola internasional tersebut.
(ASN/CHR)
