GEMAGAZINE — Teknologi terus mengubah kehidupan manusia dengan kecepatan secara masif, termasuk pada Neuroteknologi. Perusahaan neuroteknologi milik Elon Musk, Neuralink, merupakan perusahaan yang berfokus pada pengembangan Brain-Computer Interface (BCI) atau antarmuka otak-komputer.
Neuralink didirikan pada tahun 2016 bersama Elon Musk. Pengusaha teknologi tersebut mendanai perusahaan menggunakan dana pribadi sebesar 100 juta dolar AS, yang diawali dengan mengembangan produk pertama mereka, implan N1. Perangkat Brain-Computer Interface (BCI) invasif ini berisi elektroda yang ditanamkan ke dalam otak untuk mentransmisikan sinyal ke komputer, sebagaimana dilansir Gemagazine dari situs resmi Forbes, Senin (8/6/2026).
BCI menjadi salah satu fokus pengembangan dalam neuroteknologi yang berpotensi besar untuk membantu pasien gangguan motorik dan kehilangan kemampuan berkomunikasi. Neuralink adalah salah satu dari perusahaan yang paling menarik perhatian dalam pengembangan Brain-Computer Interface.
Bagaimana Neuralink Dapat Berinteraksi dengan Otak?
Neuralink membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi dengan area otak yang luas. Hal ini tidak cocok jika metode yang dilakukan untuk merekam aktivitas saraf dari luar otak, seperti elektroensefalografi (EEG) dan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI), atau dari permukaan otak, seperti elektrokortikografi (ECoG). Neuralink membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi dengan area otak yang luas.
Metode yang cocok dilakukan adalah dengan menempatkan elektroda di dekat neuron target. Benang-benang mikroskopis yang terhubung dengan implan, yang masing-masing memiliki ketebalan sekitar sepersepuluh rambut manusia, kemudian ditanamkan ke dalam jaringan otak. Melalui elektroda tersebut, implan dapat mendeteksi, merekam, dan menerjemahkan sinyal saraf menjadi data yang dapat diproses oleh perangkat komputer.
Kemajuan Neuralink Bagi Makhluk Hidup
Pada tahun 2023, Neuralink mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) untuk mulai uji klinis pertama pada manusia. Dalam salah satu percobaan, seekor monyet makaka bernama Pager bermain Pong hanya dengan menggunakan perangkat yang ditanam untuk mengendalikan pemukulnya, dilansir Gemagazine dari situs resmi Forbes pada Senin, (08/06/2026).
Saat ini, Neuralink telah menerbitkan laporan kisah dua pasien yang menjalani implantasi perangkat tersebut pada bulan Mei dan Agustus 2024 di blog mereka. Pasien pertama, Noland, adalah seorang penderita quadriplegia. Ia, membutuhkan bantuan pengasuh untuk menempatkan stylus di mulutnya agar bisa mengoperasikan tablet. Kini, berkat implan Neuralink, ia bisa menggerakkan kursor langsung melalui otaknya untuk bermain gim komputer hingga berselancar di internet.
Kondisi serupa juga dialami oleh pasien kedua bernama Alex, yang kini mampu bermain gim video dan sedang belajar menggunakan perangkat lunak desain berbantuan komputer untuk mendesain objek tiga dimensi. Dari kedua kondisi tersebut Neuralink cukup mengalami kemajuan dalam pengembangannya, dengan kemajuan tersebut saat ini Neuralink sedang mengembangkan produk lain yang disebut “Blindsight” untuk orang-orang dengan jenis gangguan penglihatan tertentu.
Dampak dan Risiko Implan Neuralink
Meskipun perkembangan Neuralink cukup luar biasa, teknologi ini tetap tidak lepas dari risiko medis. Salah satu tantangan terbesarnya terjadi karena tubuh manusia biasanya merespons material asing dengan membungkusnya dalam jaringan parut, dengan reaksi yang signifikan terhadap benang yang terhubung dapat menurunkan kemampuan implan dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien.
Untuk mengatasi tantangan dan risiko medis tersebut, Neuralink mendekati keamanan praklinis dari dua perspektif, yaitu, biokompatibilitas dan keamanan prosedural. Pendekatan biokompatibilitas dilakukan dengan mengandalkan studi praklinis yang dirancang dengan baik mencakup analisis in-life serta post-mortem.
(ANS/WH)
