GEMAGAZINE – Indonesia menghadapi tekanan rupiah, ketika kurs menembus Rp17.877 per dolar AS pada 29 Mei 2026. Konflik global menjadi salah satu pemicu melemahnya rupiah.
Menghadapi rupiah yang semakin melemah, Bank Indonesia (BI) menerapkan kebijakan dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 bps ke level 5,25 persen. Langkah ini dilakukan guna memperkuat nilai tukar rupiah.
Antisipasi juga dilakukan untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran yang ditetapkan pemerintah, serta memitigasi dampak tingginya guncangan global akibat konflik di Timur Tengah. Dilansir oleh Gemagazine dari bagian publikasi BI mengenai “BI-Rate Naik 50 bps menjadi 5,25%: Memperkuat Stabilitas, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi”, Senin (01/06/2026).
Penyebab Melemahnya Nilai Rupiah per Dolar
Lemahnya rupiah bukanlah tanpa alasan. Terdapat faktor eksternal dan internal yang menjadi pemicunya.
Perang antara Iran dan Amerika Seikat (AS) merupakan faktor eksternal yang turut memengaruhi nilai rupiah. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai prospek nilai tukar rupiah sangat bergantung pada pascagencatan senjata antara AS dan Iran. Apabila hanya berupa jeda taktis, hal tersebut dapat kembali mendorong tekanan eksternal.
“Kesepakatan ini (gencatan senjata sementara) masih jauh dari penyelesaian, isu inti konflik belum terselesaikan, dan ujian sesungguhnya tetap pada apakah lalu lintas kapal di Selat Hormuz benar-benar kembali normal,” kata Josua.
Faktor eksternal bukanlah satu-satunya. Literatur ekonomi moneter kontemporer mengingatkan bahwa faktor eksternal hanyalah pemantik, sedangkan sisanya ditentukan dari dalam negeri.
Salah satunya adalah pelebaran defisit fiskal yang dapat meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang terhadap keberlanjutan fiskal. Pasar akan menuntut premi risiko yang lebih tinggi, yang berujung pada arus keluar dana portofolio asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sehingga memperbesar tekanan pada rupiah.
Indonesia juga memiliki struktur ekonomi yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku, seperti pangan dan energi, yang membuat kebutuhan dolar AS tetap tinggi. Begitu harga komoditas melemah atau permintaan global melambat, surplus perdagangan menyempit dan bantalan cadangan devisa terhadap gejolak kurs menipis.
Ekonomi Domestik Tetap Dalam Jalur Stabil
Di tengah kepanikan melemahnya nilai tukar rupiah, pemerintah menegaskan bahwa kondisi ekonomi domestik Indonesia tetap berada dalam jalur yang kuat dan stabil. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, juga memastikan bahwa volatilitas mata uang yang terjadi saat ini tidak mengganggu ekonomi riil maupun anggaran negara.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) turut menjamin harga Bahan Bakar Minyak (BBM). BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak akan mengalami kenaikan harga walau kurs dolar AS tembus Rp17.877 per dolarnya.
Meskipun rata-rata harga minyak mentah Indonesia pada April 2026 sebesar 117,31 dolar AS per barel, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menekankan bahwa harga BBM bersubsidi masih aman hingga akhir tahun 2026.
(ADN/MKT)
