GEMAGAZINE — Indonesia menjadi salah satu negara yang terlibat dalam gerakan Global Sumud Flotilla (GSF). Namun, sayangnya pada gelombang kedua sembilan WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan tersebut mengalami insiden penculikan oleh tentara Israel pada 19 Mei 2026.
GSF bergerak dari empat titik yaitu Spanyol, Turki, Yunani, dan Italia. Misi kali ini disebut sebagai “Musim Semi 2026”. Mereka menyebutkan bahwa misi mereka sebagai upaya menegakkan hukum internasional dan menyampaikan pesan kemanusiaan ke Gaza, dilansir Gemagazine dari Global Sumud Flotilla pada Senin, (25/05/2026).
Berlayar membawa misi kemanusiaan lintas bangsa, gerakan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian tak mengenal batas wilayah maupun perbedaan latar belakang. Lantas apa itu Global Sumud Flotilla?
Apa Itu Global Sumud Flotilla?
Global Sumud Flotilla (GSF) merupakan gerakan solidaritas kemanusiaan berbasis kapal sipil yang dicetuskan dan diorganisir oleh koalisi masyarakat sipil internasional. Koalisi tersebut terdiri dari Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara.
Global Sumud Flotilla mengambil nama “sumud” dari bahasa Arab yang bermakna keteguhan atau ketahanan. Sedangkan “flotilla” berasal dari bahasa Spanyol yang berarti armada kecil.
Istilah ini umumnya merujuk pada formasi kapal perang atau konvoi kapal sipil yang dibentuk untuk misi tertentu. Misi tersebut dapat berupa ekspedisi ilmiah, perjalanan liburan, atau misi kemanusiaan.
GSF memiliki tujuan untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza melalui jalur laut. Selain itu, GSF juga membawa bantuan kemanusiaan serta menegaskan penolakan terhadap pendudukan dan pengepungan Gaza.
Dalam aksi kemanusiaan ini beberapa kapal diberangkatkan dari berbagai pelabuhan dunia. Sebuah kapal lebih dulu lepas dari Barcelona, disusul armada lain yang bertolak dari Tunisia sebelum bergabung di perairan Mediterania menuju Gaza, dilansir Gemagazine dari Antara News pada Senin, (25/05/2026).
Tantangan dalam Aksi Kemanusiaan
Menjadi relawan dalam aksi ini bukan hal yang mudah mengingat banyaknya masalah yang dihadapi. Bukan hanya cuaca dan kondisi laut yang berat, tetapi hambatan militer dan tekanan politik juga menjadi masalah yang dihadapi relawan GSF.
Pada malam 29 April ke 30 April, para aktivis mengatakan bahwa pasukan Israel mengambil alih kapal mereka di dekat Pulau Kreta. Mereka merusak mesin kapal dan sistem navigasi, lalu meninggalkan mereka begitu saja.
Gelombang kedua GSF resmi dimulai pada Mei 2026. Meski begitu, aksi tersebut terhambat oleh sejumlah insiden pencegatan dan penculikan relawan yang turut menimpa sembilan WNI.
Dari sembilan WNI itu, tiga orang di antaranya merupakan wartawan media nasional yang tengah bertugas. Mereka adalah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika serta Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo.
Namun, setelah rangkaian upaya diplomatik dan kekonsuleran yang intensif dari pemerintah RI, sembilan WNI akhirnya berhasil dibebaskan pada 21 Mei 2026, dilansir Gemagazine dari situs resmi Kementerian Luar Negeri RI pada Senin, (25/05/26).
Mereka kemudian tiba di Indonesia dengan selamat pada Minggu, 24 Mei 2026 pukul 15.30 WIB dan disambut oleh Menteri Luar Negeri Sugiono.
Peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bahwa perjuangan kemanusiaan tetap memiliki arti penting di tengah konflik. Dedikasi dan komitmen para aktivis menjadi fondasi yang kuat bagi keberhasilan misi Global Sumud Flotilla di masa mendatang.
(ASN/MYA)
