Film Laut Bercerita: Edukasi Sejarah bagi Gen Z

Foto: Instagram/lautbercerita

GEMAGAZINE – Film Laut Bercerita kini hadir di layar lebar setelah diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori. Film tersebut resmi tayang di Indonesia sejak 29 Oktober 2026. Sebelumnya Laut Bercerita melakukan penayangan di Busan, Korea Selatan, pada 11 Oktober 2026. 

Laut Bercerita merupakan film drama Indonesia yang mengisahkan aktivis mahasiswa yang mengalami penghilangan paksa selama masa pergerakan di akhir era 1990-an. Film tersebut juga menyoroti perjuangan sebuah keluarga yang terus mencari kejelasan pada orang-orang yang hilang. 

Tema sejarah dan kemanusiaan yang diangkat dalam Laut Bercerita turut menarik perhatian generasi Z. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa generasi ini memiliki ketertarikan untuk memahami isu sejarah dan sosial yang relevan melalui berbagai media termasuk film. Hal ini dilansir Gemagazine dari jurnal bertajuk Persepsi Mahasiswa Generasi Z Terhadap Sejarah, Senin (26/10/2026). 

Laut Bercerita dan Sejarah

Film Laut Bercerita berpusat pada tokoh Biru Laut yang diperankan Reza Rahadian. Biru Laut merupakan mahasiswa di Yogyakarta yang gemar membaca dan menulis. Ketertarikannya terhadap buku dan diskusi membawanya bergabung dengan kelompok studi bernama Winatra. 

Bersama rekan-rekannya, Laut terlibat dalam berbagai aktivitas untuk memperjuangkan keadilan dan kebebasan berekspresi. Mereka melawan ketidakadilan dengan membaca, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. 

Situasi di lingkungan kampus semakin menegangkan setelah tiga mahasiswa ditangkap karena menyebarkan buku-buku yang dianggap terlarang. Keadaan tersebut membuat kegiatan kelompok Winatra semakin berisiko. Namun, Laut dan teman-temannya tetap berusaha menyuarakan pandangan mereka. 

Konflik memuncak ketika Laut dan sejumlah rekannya menghilang tanpa kabar. Kepergian mereka menyisakan tanda tanya besar, terutama pada keluarga yang tidak tahu apa-apa. Bapak dan Ibu Laut yang diperankan oleh Arswendy Bening Swara dan Christine Hakim, serta adik Laut, Asmara Jati yang diperankan Yunita Siregar, terus menanti kabar untuk mencari informasi mengenai keberadaan Laut.

Laut Bercerita mengusung genre film berlatar sejarah reformasi 1998 yang mengulas konflik antara pemerintah Orde Baru dan masyarakat. Melalui tokoh seperti Biru Laut dan Asmara Jati, film ini dapat menghadirkan sudut pandang korban dan pencari kebenaran. Tokoh Biru Laut hadir sebagai simbol perlawanan korban, sementara Asmara Jati menjadi representasi  pencari kebenaran yang dihadapkan pada keterbatasan informasi. Dilansir Gemagazine dari jurnal bertajuk Dekonstruksi Narasi Sejarah Dalam Novel Laut Bercerita pada Era Reformasi, Senin (26/10/2026).

Mengapa Relevan dengan Gen Z?

Generasi Z merupakan generasi yang lahir dari tahun 1997 sampai 2012. Penting bagi generasi ini untuk mengetahui sejarah, karena sejarah mengajarkan bagaimana menyelesaikan masalah pada masa lalu yang bisa dilakukan di masa sekarang. Hal ini dilansir Gemagazine dari jurnal bertajuk Persepsi Mahasiswa Generasi Z Terhadap Sejarah, Senin (26/10/2026). 

Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) Jawa Timur juga menilai film Laut Bercerita relevan untuk mengedukasi generasi muda tentang sejarah penculikan aktivis dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjelang Reformasi 1998. Ketua IKOHI Jawa Timur Dandik Katjasungkana mengatakan bahwa film yang diadaptasi dari novel Leila S. Chudori tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami peristiwa penculikan dan penghilangan paksa aktivis pada 1998. Dilansir Gemagazine dari Antara News, Senin (26/10/2026). 

Terlebih lagi, Generasi Z memiliki tingkat partisipasi tinggi terhadap isu-isu global. Partisipasi aktif mereka pada berbagai gerakan sosial menunjukkan bahwa generasi tersebut sangat peduli terhadap kesejahteraan bersama dan keadilan sosial. Oleh karena itu, tidak sedikit Generasi Z yang memahami dan tertarik pada sejarah dan isu sosial. Dilansir Gemagazine dari jurnal Transformasi Sosial oleh Generasi Z Dalam Konteks Masyarakat Majemuk, Senin (26/10/2026).

Di sisi lain, kemajuan teknologi dan internet mempermudah dalam memahami sejarah, salah satunya melalui media film. Film dapat digunakan untuk membantu generasi muda dalam  mengembangkan  literasi sejarah dan karya layar lebar tersebut memiliki relevansi yang kuat di tengah situasi politik saat ini. Dilansir Gemagazine dari Antara News, Senin (26/10/2026).

(MA)/(ALKA)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *