GEMAGAZINE — Bagi mahasiswa, pertanyaan terkait masa depan sering muncul bahkan sebelum lulus, baik dari eksternal maupun internal. Pertanyaan seperti ingin bekerja di mana setelah lulus dan apakah pendidikan yang ditempuh sudah cukup untuk dunia kerja sering menjadi keresahan.
Keresahan tersebut semakin terlihat ketika membandingkan dua jalur pendidikan, yaitu sarjana dan vokasi. Pendidikan sarjana lebih banyak belajar tentang teori, sedangkan vokasi lebih banyak belajar tentang praktik. Perbedaan cara belajar dan gelar yang diperoleh membuat mahasiswa dari kedua jalur memiliki keresahan yang berbeda.
Bagi mahasiswa vokasi, keresahan dapat muncul dari stigma masyarakat dan persyaratan terkait lowongan pekerjaan. Sementara itu, mahasiswa sarjana juga menghadapi keresahan tentang kesiapan kerja meski sudah memiliki gelar. Pada akhirnya, keduanya sama-sama dihadapkan pada pertanyaan tentang kesiapan menghadapi dunia kerja setelah lulus.
Tantangan bagi Mahasiswa untuk Bersaing di Lapangan Pekerjaan
Mahasiswa merupakan calon angkatan kerja yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia profesional. Selama menempuh pendidikan tinggi, mahasiswa dituntut untuk memiliki kompetensi dan kesiapan kerja sesuai dengan bidangnya. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan dengan pengalaman dan tantangan yang sama bagi mahasiswa sarjana maupun vokasi.
Selain itu, karier menjadi salah satu hal yang dapat menimbulkan kecemasan bagi mahasiswa. Hal tersebut dikarenakan adanya ketidakpastian karier dan persaingan yang ketat, baik di antara lulusan vokasi maupun sarjana.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 sebesar 5,39% dengan tingkat pendidikan akhir universitas menganggur. Begitu pula dengan tingkat pendidikan akhir diploma sebesar 4,31% menganggur. Hal ini dilansir Gemagazine dari Badan Pusat Statistik (BPS) (21/09/26).
Data tersebut menunjukkan bahwa memiliki latar belakang pendidikan tinggi belum serta-merta menghilangkan persoalan dalam memasuki dunia kerja. Di tengah persaingan tersebut, mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada tuntutan untuk memiliki kompetensi, tetapi juga pada pandangan yang berkembang mengenai jalur pendidikan yang mereka pilih. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian menjadi persoalan lain bagi mahasiswa vokasi maupun sarjana. Hal ini dilansir Gemagazine dari Jurnal Psikologi yang berjudul Kecemasan Karier Mahasiswa Sarjana dan Mahasiswa Vokasi (21/09/26).
Stigma di Balik Vokasi dan Sarjana
Persaingan memasuki dunia kerja bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi mahasiswa. Jalur pendidikan yang ditempuh juga tidak terlepas dari pandangan masyarakat, terutama ketika vokasi dan sarjana masih kerap dibandingkan.
Pendidikan vokasi dan sarjana kerap dibandingkan karena memiliki perbedaan dalam status gelar. Hal tersebut kemudian menimbulkan pandangan bahwa sarjana lebih dibutuhkan di dunia industri dibandingkan vokasi. Namun, kenyataannya dua jenis pendidikan tersebut memiliki metode pembelajaran yang berbeda sehingga tidak bisa digeneralisasi.
Sementara bagi mahasiswa sarjana, adanya tuntutan terhadap gelar yang dimiliki seperti “sudah S1 kok belum dapat kerja” menjadi salah satu keresahan yang sering dihadapi. Stigma perbandingan antara kedua jenis pendidikan tersebut menjadi salah satu tantangan dan keresahan mahasiswa selain pekerjaan.
Pada akhirnya, pilihan antara pendidikan vokasi dan sarjana tidak hanya berkaitan dengan gelar yang diperoleh, tetapi juga bagaimana keterampilan yang dimiliki untuk menghadapi dunia pekerjaan. Keresahan mahasiswa terhadap masa depan kemudian tidak hanya muncul dari persaingan dunia kerja, tetapi juga dari stigma masyarakat. Hal ini dilansir Gemagazine dari Jurnal Inovasi Pendidikan Kejuruan (21/09/26).
(SRP/KAP)
