GEMAGAZINE – Fenomena sepinya daya beli masyarakat saat ini tidak hanya terjadi pada UMKM. Kondisi tersebut juga mulai dirasakan oleh ritel besar yang sudah memiliki nama. Mal dan pasar masih ramai dikunjungi, tetapi masyarakat semakin selektif dalam membelanjakan uangnya.
Fenomena ini menjadi tantangan bagi pelaku UMKM dan ritel besar dalam mempertahankan usaha. Penurunan permintaan terhadap produk dan jasa dapat memengaruhi pendapatan pelaku usaha. Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan efek domino bagi perekonomian Indonesia.
Dilansir Gemagazine dari Antara pada Sabtu (8/8/2026), Pengamat Ekonomi Kalimantan Selatan, Prof. Dr. Ahmad Yunani, SE., M.Si., mengatakan konsumen mulai beralih ke toko daring. Kemudahan transaksi membuat masyarakat merasa nyaman menggunakan pasar digital. Kondisi tersebut turut memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.
Namun, apakah pasar digital menjadi satu-satunya faktor yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun? Tentu ada faktor lain yang turut memengaruhi kondisi tersebut. Faktor-faktor ini perlu dilihat untuk memahami penyebab menurunnya daya beli masyarakat.
Faktor Sepinya Daya Beli Masyarakat
Salah satu faktor utama yang memengaruhi daya beli adalah inflasi yang terus meningkat. Kondisi tersebut menyebabkan harga barang dan jasa ikut naik sehingga kemampuan masyarakat untuk berbelanja menjadi terbatas. Ruang gerak UMKM dalam meningkatkan penjualan dan mempertahankan pendapatan juga semakin terbatas.
Pertumbuhan upah riil yang tidak sebanding dengan laju inflasi membuat daya beli masyarakat kelas menengah-bawah terus tergerus. Masyarakat kemudian menjadi lebih selektif dalam memilih produk dan jasa yang akan dibeli. Selain itu, kenaikan pajak juga dapat memengaruhi keputusan konsumen.
Selain faktor ekonomi, lingkungan sosial dan budaya juga memengaruhi perilaku konsumen. Nilai dan narasi tentang hidup hemat dapat membentuk kebiasaan masyarakat dalam berbelanja. Interaksi sosial, seperti membandingkan harga, juga dapat memengaruhi keputusan akhir konsumen.
Faktor-faktor tersebut menjadi penyebab menurunnya daya beli masyarakat. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas. Karena itu, pemerintah perlu segera melakukan intervensi.
Dampak Dominonya Terhadap Masyarakat
Penurunan omzet UMKM menjadi salah satu dampak dari melemahnya daya beli masyarakat. Ritel besar juga mengalami penurunan penjualan sekitar 10 persen pada April, sedangkan UMKM menghadapi kenaikan harga produksi dan penurunan jumlah pembeli. Kondisi tersebut dilansir Gemagazine pada Sabtu (8/8/2026) dari situs resmi Bank Indonesia.
Ada risiko gulung tikar dari UMKM dan perusahaan yang akan merembet pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Selain itu, lapangan pekerjaan juga menjadi lebih sempit dan risiko tingkat pengangguran akan meningkat.
Di sisi lain, penurunan aktivitas ekonomi dapat memengaruhi penerimaan pajak negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Konsumsi pemerintah, konsumsi regional, dan konsumsi rumah tangga menjadi beberapa faktor yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Pengeluaran pemerintah juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penerimaan pajak dan pembiayaan pembangunan, dilansir Gemagazine pada Sabtu (8/8/2026) dari jurnal Pengaruh Belanja Pemerintah, Konsumsi Rumah Tangga, Indeks Pembangunan Manusia Dan Ekspor Terhadap Produk Domestik Regional Bruto Di Provinsi Lampung Pada Tahun 2014–2024.
Dampak domino ini pada akhirnya memaksa masyarakat untuk menerapkan pola konsumsi yang lebih hemat lagi. Pelaku UMKM dan ritel besar harus bersiap dan melakukan strategi bertahan agar mampu menjaga laju bisnis mereka dan menaikkan daya beli masyarakat.
Strategi dan Solusi
Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah melakukan inovasi pada produk atau layanan. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Pelaku usaha juga dapat mengevaluasi produk yang sudah ada dan melakukan berbagai perbaikan.
Pemerintah dan lembaga terkait perlu memberikan dukungan kepada UMKM melalui kebijakan yang tepat. Program pendampingan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha, seperti pelatihan, subsidi digitalisasi, akses pasar daring, dan insentif inovasi. Strategi tersebut dapat membantu UMKM menghadapi perubahan pasar dan mempertahankan pendapatan.
Pada akhirnya, tetap harus ada keselarasan adaptasi dari pelaku usaha dan langkah kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Hal ini diperlukan agar daya beli masyarakat dan roda ekonomi Indonesia tetap stabil.
ALKA/ADN
