Mengenal Apa Itu Detoks Sosmed dan Bagaimana Cara Melakukannya

Foto: Abie Putra

GEMAGAZINE – Bagi sebagian orang, mengecek handphone menjadi kegiatan pertama setelah bangun tidur.  Melihat pesan yang masuk hingga membuka sosial media menjadi hal yang segera ingin dilihat. 

Niatnya hanya scrolling selama 5 menit, tetapi tanpa disadari bisa berlanjut hingga berjam-jam. Waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk beraktivitas justru habis di depan layar. 

Kebiasaan tersebut tidak lepas dari tingginya penggunaan media sosial di kalangan anak muda. Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Akibatnya banyak orang yang merasa stres saat melihat konten di media sosial, tetapi tetap sulit menghentikan aktivitas tersebut. Jika kamu merasa salah satunya, ini bisa menjadi pertanda bahwa kamu perlu melakukan detoks media sosial. 

Detoks media sosial adalah upaya membatasi akses ke berbagai situs atau aplikasi jejaring sosial, baik untuk sementara maupun permanen. Hal ini dilansir Gemagazine dari  situs Universitas Airlangga “Manfaat Detoks Media Sosial untuk Kesehatan Mental”, unairnews (21/10/24). 

Dampak yang Terjadi Jika Terlalu Sering Menggunakan Media Sosial 

Pada dasarnya, media sosial merupakan sebuah situs yang membuat penggunanya dapat dengan mudah mengakses berbagai data yang dibutuhkan secara online. Akan tetapi, media sosial dapat menimbulkan pengaruh negatif bagi individu yang menggunakannya, yaitu menimbulkan gejala kecanduan atau addict yang tinggi. Dari gejala kecanduan terhadap media sosial, maka akan menimbulkan perilaku FOMO (Fear Of Missing Out). 

FOMO (Fear Of Missing Out) didefinisikan sebagai ketakutan seseorang yang meluas apabila mereka tertinggal oleh pengalaman berharga yang orang lain lakukan di media sosial. Pengertian FOMO ini dilansir Gemagazine dari jurnal Detox Sosial Media Sebagai Upaya Mengatasi Social Media Addiction dan Fomo (Fear Of Missing Out): Jurnal Sosialisasi (3/11/2022). 

Adapun faktor utama yang menyebabkan seseorang ketergantungan terhadap media sosial yaitu, stress dan kesepian. Dampak lain dari ketergantungan terhadap media sosial bisa sampai menyerang fisik, sosial serta psikologi individu. 

Contoh dampak FOMO seperti waktu tidur yang terganggu sehingga dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan. Anak yang ketergantungan Media sosial bisa menjadi antisosial. Selain itu, dampak psikologi yang ditimbulkan yaitu, Individu akan merasa khawatir, cemas dan tidak percaya terhadap diri sendiri karena disebabkan oleh pencapaian orang lain yang dilihatnya di media sosial. 

Upaya yang Dapat Dilakukan Untuk Mengurangi Ketergantungan Media Sosial

Terdapat dua upaya yang dapat dilakukan baik itu dalam bentuk internal maupun eksternal. Solusi internal dapat diselesaikan dari dorongan atau motivasi diri sendiri, sedangkan solusi eksternal dapat diselesaikan dari bantuan orang lain disekitarnya seperti keluarga dan juga informasi dari internet ataupun sumber lainnya. Pada umumnya, ketergantungan media sosial dapat disembuhkan dari sisi internal yaitu membatasi penggunaan gadget dan media sosial. 

Pembatasan penggunaan sosial media dapat dilakukan dengan cara detoks sosial media. Detoks sosial media adalah suatu upaya untuk mengurangi dan menyeleksi penggunaan media sosial. 

Pentingnya detoks sosial media agar individu dapat mengontrol dan membatasi penggunaan gadget serta sosial media dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari perilaku ketergantungan terhadap sosial media serta perasaan cemas yang timbul apabila tidak menggunakan sosial media atau disebut dengan fear of missing out. Hal ini dilansir dari Gemagazine dari jurnal Detox Sosial Media Sebagai Upaya Mengatasi Social Media Addiction dan Fomo (Fear Of Missing Out), Jurnal Sosialisasi (3/11/2022)

Pada akhirnya, sosial media detoks bukan tentang menjadikan teknologi sebagai sesuatu yang harus dihindari. Teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan memberikan banyak manfaat. Hal yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat yang membantu, bukan sesuatu yang justru mengendalikan waktu dan perhatian.

NH/KA

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *