GEMAGAZINE — Meningkatnya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) mendorong penggunaan unit pemroses grafis (Graphics Processing Unit/GPU) dan akselerator berperforma tinggi yang menghasilkan panas dalam jumlah besar. Kondisi ini menjadi tantangan bagi sistem pendinginan udara yang selama ini umum digunakan pada pusat data (data center).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, perusahaan teknologi seperti Microsoft dan Google mengembangkan liquid cooling, teknologi ini memanfaatkan cairan untuk menyerap dan memindahkan panas dari komponen server.
Pada sistem ini, cairan pendingin dialirkan melalui jalur tertutup untuk membawa panas dari prosesor menuju alat penukar kalor (heat exchanger). Di dalam perangkat tersebut, panas dipindahkan dari cairan ke udara sebelum cairan yang telah didinginkan kembali disirkulasikan ke komponen server.
Mekanisme dan Inovasi Liquid Cooling
Ketika GPU dan prosesor menjalankan perhitungan AI, sebagian energi listrik yang digunakan akan terlepas sebagai panas. Semakin besar beban komputasi yang ditangani, semakin penting sistem pendinginan untuk menjaga suhu komponen tetap dalam batas operasionalnya.
Pada sistem direct-to-chip pelat pendingin (cold plate) dipasang pada permukaan prosesor atau GPU. Cairan yang mengalir melalui saluran di dalam pelat tersebut menyerap panas dari chip, kemudian membawanya menuju unit penukar kalor.
Cairan tersebut selanjutnya dialirkan menuju liquid-to-air heat exchanger, yaitu perangkat yang berfungsi memindahkan panas dari cairan ke udara. Setelah proses pelepasan panas berlangsung, cairan yang telah didinginkan kembali dialirkan menuju cold plate. Proses ini membentuk siklus pendinginan tertutup yang berlangsung selama server beroperasi.
Salah satu penerapan teknologi pendinginan tersebut dikembangkan oleh Google melalui sistem Brazos. Dilansir GEMAGAZINE dari situs resmi Google Cloud pada Selasa (13/10/2026), sistem ini diperkenalkan pada 17 Juni 2026. Sistem pendingin cairan-ke-udara tertutup yang dipasang pada rak. Sistem ini memungkinkan peralatan berpendingin cairan berkepadatan tinggi digunakan di pusat data yang sudah menggunakan pendingin udara. Brazos kini tersedia secara umum. Hal ini membuka peluang bagi pelaku industri untuk mengembangkan dan memproduksi desain Brazos dari Google.
Selain Google, Microsoft turut mengembangkan teknologi pendinginan cairan melalui Liquid Cooling Heat Exchanger Unit (HXU) untuk mendukung pendinginan GPU dan akselerator AI berperforma tinggi. Teknologi ini membantu memindahkan panas dari komponen server agar suhu tetap terjaga.
Potensi Liquid Cooling untuk Data Center AI
Salah satu keunggulan liquid cooling adalah kemampuannya menangani panas dari komponen berperforma tinggi secara langsung. Pada sistem Google, panas tersebut dipindahkan ke udara melalui heat exchange, sehingga pendinginan cair dapat diterapkan pada data center yang sebelumnya menggunakan pendinginan udara. Desain tersebut mengurangi kebutuhan jalur air khusus untuk pendinginan cair di tingkat fasilitas. Namun, hal ini belum membuktikan seberapa besar pengurangan konsumsi air keseluruhan di data center.
Meskipun pengembangan liquid cooling cukup efisien, saat ini masih terdapat tantangan dalam penerapannya. Tantangan tersebut datang dari sisi infrastruktur. Pemasangan sistem ini membutuhkan penyesuaian tambahan, sehingga fasilitas yang sudah beroperasi perlu menyesuaikan infrastruktur agar dapat mengakomodasi teknologi tersebut.
Secara keseluruhan, liquid cooling memiliki potensi besar dalam mendukung efisiensi energi pada pusat data AI. Meskipun penerapannya masih menghadapi sejumlah tantangan, perkembangan teknologi ini menjadi salah satu solusi untuk mengoptimalkan sistem pendinginan di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi AI.
(MAS/ANS)
