GEMAGAZINE – Penyerangan terjadi terhadap sejumlah bandara di Riyadh dan Kota Abha, serta kilang minyak di Jeddah, Arab Saudi. Houthi mengklaim yang melakukan penyerangan tersebut dan disampaikan oleh Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saria pada Senin (5/10/2026).
Sebelumnya, Houthi atau Gerakan Ansar Allah Yaman mengatakan bahwa mereka telah menargetkan Arab Saudi. Kelompok tersebut menuduh Arab Saudi menyerang sasaran sipil di Hodeidah dan Pulau Kamaran, termasuk pelabuhan Hodeidah. Houthi berjanji akan menyerang pelabuhan-pelabuhan Saudi sebagai balasan.
Pemimpin Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, juga memperingati Turki dan Pakistan untuk tidak terlibat dengan konflik kelompoknya dan Arab Saudi. Dalam sebuah pidato yang disiarkan melalui saluran televisi al-Masirah yang dikelola Houthi, al-Houthi menuduh Arab Saudi mencari dukungan militer dari Turki dan Pakistan, dilansir Gemagazine dari Antara, Selasa (06/10/2026).
Siapa Itu Houthi?
Houthi adalah kelompok bersenjata politik dan agama dari Yaman utara yang memperjuangkan minoritas Muslim Syiah di negara itu, yaitu kaum Zaidi. Houthi sendiri dipimpin Iran untuk melawan Israel, AS, dan Barat secara luas.
Ansar Allah (Pendukung Allah) juga menjadi sebutan untuk Houthi. Kelompok ini muncul pada tahun 1990-an dan mengambil namanya dari mendiang pendiri gerakan tersebut, Hussein al-Houthi. Saudaranya, Abdul Malik al-Houthi telah menjadi pemimpin de facto kelompok tersebut sejak 2004.
Pada tahun 2000-an, Houthi memberontak melawan presiden otoriter Yaman yang telah lama berkuasa, Ali Abdullah Saleh. Mereka menginginkan otonomi yang lebih besar di Yaman Utara, wilayah di mana kelompok tersebut berasal. Houthi merebut Kota Sanaa, Ibu Kota Yaman pada tahun 2011 ketika rakyat memberontak dan memaksa Saleh untuk menyerahkan kekuasaan pada wakilnya, dilansir Gemagazine dari BBC News pada (06/10/2026).
Keselamatan WNI di Arab Saudi Menjadi Utama
Melihat konflik yang berlangsung di Arab Saudi, Anggota Komisi VII DPR RI Dini Rahmania meminta pemerintah memastikan keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi termasuk yang sedang beribadah umrah. Ia mengimbau jamaah umrah untuk tidak panik, tetap tenang, waspada serta perlu mengikuti setiap instruksi resmi dari otoritas Arab Saudi maupun perwakilan Republik Indonesia.
Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah, juga mengatakan pihak otoritas Arab Saudi telah beberapa kali mengeluarkan peringatan potensi bahaya keamanan untuk sejumlah wilayah, termasuk Makkah, Jeddah, dan Taif. Pada Selasa (15/9/2026), pihak otoritas Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan kepada masyarakat setempat untuk tetap berada dalam ruangan, menghindari area terbuka dan kerumunan, serta mengikuti arahan resmi.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, melalui perwakilannya telah memberikan peringatan dan imbauan kepada WNI di Arab Saudi, termasuk PMI yang bekerja di sana. Pemerintah juga terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan perwakilan di luar negeri, terutama negara-negara di Timur Tengah.
(NQ/ARA)
