GEMAGAZINE — Darya Shipilova, pegawai laboratorium di Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East, Rusia, meninggal pada 2 Oktober 2026. Ia dilaporkan jatuh sakit saat bekerja dua hari sebelumnya dengan gejala pneumonia berat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Rospotrebnadzor sekaligus Kepala Dokter Sanitasi Negara, Anna Popova, menghadiri pertemuan darurat di Irkutsk untuk mengoordinasikan penanganan kasus Shipilova. Setelah pertemuan tersebut, Gubernur Igor Kobzev memastikan bahwa seluruh orang yang berkontak dengan Shipilova berada di bawah pengawasan medis dan hasil pemeriksaan mereka negatif, dilansir GEMAGAZINE dari situs Ukrainian National News, Senin (12/10/2026).

Sekitar 200 orang yang diketahui melakukan kontak dengannya dilaporkan telah menjalani karantina. Sebagian rumah sakit di kota tempat Shipilova meninggal ditutup, sedangkan pekerja di sebuah pabrik aluminium di dekatnya diwajibkan mengenakan masker, dilansir GEMAGAZINE dari situs Al Jazeera, Senin (12/10/2026).

Di balik penanganan kasus tersebut, muncul sejumlah laporan yang memuat informasi berbeda. Laporan-laporan tersebut  mengungkapkan berbagai versi mengenai awal mula Shipilova jatuh sakit.

Dugaan Darya Shipilova Jatuh Sakit

Sejumlah laporan memuat versi berbeda mengenai awal mula Shipilova jatuh sakit. Menurut media regional independen People of Baikal, Darya Shipilova meninggal dunia setelah secara tidak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi patogen wabah, dilansir GEMAGAZINE dari situs Times of India, Senin (12/10/2026).

Sementara itu, badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, membantah adanya kecelakaan laboratorium di institut tersebut, dilansir GEMAGAZINE dari situs The Guardian, Senin (12/10/2026).

Rospotrebnadzor menyatakan Shipilova meninggal akibat “pneumonia yang penyebabnya tidak diketahui”. Mereka menegaskan bahwa hasil tes tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya serta menggambarkan situasi “sanitasi dan epidemiologi” di daerah tersebut sebagai stabil.

Gubernur Wilayah Irkutsk, Igor Kobzev, juga menyatakan bahwa pemeriksaan tidak menemukan adanya kecelakaan yang berkaitan dengan penanganan bahan biologis atau mikroorganisme patogen di Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk, tempat korban bekerja.

“Tidak ada kecelakaan yang berkaitan dengan penanganan mikroorganisme patogen yang teridentifikasi di institut ini. Pengawasan yang tepat terhadap pekerjaan ini telah dikonfirmasi,” tegas Kobzev, dilansir GEMAGAZINE dari situs resmi kantor berita Rusia, Senin (12/10/2026). 

Mengapa Bakteri Yersinia Pestis Begitu Berbahaya?

Publikasi regional Lyudi Baikala melaporkan bahwa Daria Shipilova memberi tahu staf medis bahwa ia telah memecahkan tabung reaksi berisi Yersinia pestis, bakteri penyebab wabah pes pada 25 September. Meskipun kabar tersebut belum dikonfirmasi secara independen, dugaan kejadian yang melibatkan bakteri Yersinia pestis tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran karena berbahayanya mikroorganisme tersebut, dilansir GEMAGAZINE dari situs International Business Times, Selasa (13/10/2026).

Bakteri Yersinia pestis biasanya ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya. Penyakit ini ditularkan antarhewan melalui kutu. Manusia dapat terinfeksi melalui gigitan kutu vektor yang terinfeksi, kontak tanpa perlindungan dengan cairan tubuh yang menular atau bahan yang terkontaminasi, serta menghirup partikel pernapasan dari pasien yang menderita wabah pes, dilansir GEMAGAZINE dari situs resmi World Health Organization, Selasa (13/10/2026).

Penyakit pes merupakan penyakit serius pada manusia, terutama ketika bakteri menyebar melalui aliran darah (pes septikemia) atau menginfeksi paru-paru (pes pneumonik). Menurut World Health Organization, angka kematian akibat penyakit ini berkisar antara 30% hingga 100% jika tidak diobati. Pes pneumonia dan pes septikemia dapat berakibat fatal jika tidak segera diobati. 

(WH/ASN)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *