Perubahan Iklim Kembali Memakan Korban di Nepal

Foto: Magnific

GEMAGAZINE — Mass lumpur dan batuan runtuh ke sungai di perbatasan Himalaya antara Nepal dan Tibet, Tiongkok, pada tanggal 26 Agustus 2026. Peristiwa tersebut memicu gelombang banjir setinggi 9 meter yang menerjang di wilayah Nepal. Bencana  menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ratusan wisatawan dilaporkan hilang.

Gelombang air, lumpur, dan bebatuan menyapu lembah sungai Lhende Khola, menerjang sejumlah desa, serta menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur penting. Kerusakan infrastruktur yang meluas telah memutus jalur transportasi, mengganggu jaringan listrik, serta merusak istem penyediaan air dan sanitasi lokal. Kondisi tersebut menyebabkan penduduk diwilayah terpencil kesulitan memperoleh kebutuhan dasar, dilansir Gemagazine dari Reuters, Senin (7/9/2026).

Rumah, jalan raya, dan proyek pembangkit listrik hanyut akibat bencana tersebut. Sementara itu, pejabat di Tibet mengatakan mereka khawatir akan adanya banyak korban setelah tanah longsor menerjang wilayah Gyirong. di perbatasan  Lantas, apa yang menyebabkan bencana besar ini?

Ancaman Pemanasan Global di Pegunungan

Awalnya, pemerintah Nepal menduga gempa bermagnitudo 4,4 di dekat perbatasan menjadi pemicu bencana tersebut. Namun, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), peristiwa yang semula diduga sebagai aktivitas seismik itu ternyata merupakan runtuhan gletser yang kemudian diikuti aliran material longsoran. Peristiwa itu menimbulkan dampak parah di wilayah hilir.

Penyebab pasti runtuhnya gletser besar pada 26 Agustus 2026 belum diketahui. Namun, perubahan iklim diduga turut berperan dalam meningkatkan risiko bencana tersebut.

Simon Cook, ahli glasiologi dari University of Dundee, Skotlandia, mengatakan, “Pemanasan global kemungkinan menyebabkan lapisan tanah beku permanen yang membantu menjaga kestabilan sejumlah lereng gunung mencair dan mengalami degradasi.”

“Kondisi tersebut membuat lingkungan pegunungan tinggi menjadi semakin tidak stabil. Akibatnya, risiko terjadinya longsor, aliran material longsoran, pencairan es gletser, banjir akibat jebolnya danau gletser, hingga runtuhnya gletser menjadi lebih besar,” jelas Cook, dilansir Gemagazine dari BBC News, Senin (79/2026).

Upaya yang Telah Dilakukan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama mitra kemanusiaan telah meluncurkan permohonan bantuan darurat senilai US$49,6 juta. Bantuan tersebut ditujukan untuk menyelamatkan lebih dari 84.000 orang yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di wilayah utara Nepal.

Dalam pelaksanaannya, bantuan kemanusiaan tidak hanya berfokus pada penyelamatan korban. Sejumlah langkah juga disiapkan untuk menangani dampak bencana dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.

Operasi kemanusiaan tersebut mencakup pemulihan jaringan air yang rusak, pengerahan sistem pemurnian air secara cepat, serta pengiriman perlengkapan kebersihan untuk mencegah penyebaran penyakit, dilansir Gemagazine dari situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (8/9/2026).

World Food Programme (WFP) juga telah memberikan bantuan pangan darurat kepada 5.000 orang sebagai bagian dari respons yang dipimpin pemerintah dalam beberapa jam setelah bencana terjadi. Selama minggu pertama, bantuan pangan untuk memenuhi kebutuhan 8.000 orang selama 15 hari telah dikirim dan didistribusikan.

Hingga saat ini, WFP telah memperoleh tambahan 180 metrik ton makanan. Siap meningkatkan bantuan untuk menjangkau setidaknya 43.000 orang, seiring dengan semakin jelasnya kebutuhan di lapangan, dilansir Gemagazine dari situs resmi World Food Programme, Selasa (8/9/2026).

ASN/MAS

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *