GEMAGAZINE — Gelombang penyeberangan imigran ilegal dari Maroko menuju Spanyol kembali menjadi sorotan dalam beberapa pekan terakhir. Melalui jalur laut di sepanjang pesisir Spanyol, menjadikan isu ini bukan sekadar persoalan imigrasi, tetapi juga tantangan kemanusiaan dan keamanan bagi kedua negara.
Pada 31 Juli 2026 di perbatasan Ceuta, Spanyol, ratusan hingga ribuan imigran terus berupaya memasuki wilayah Eropa melalui jalur laut di sepanjang pesisir. Gelombang migrasi ini bukan sekedar persoalan imigrasi biasa, melainkan mencerminkan tekanan ekonomi, sosial, dan politik.
Tekanan tersebut yang mendorong banyak warga Maroko rela mempertaruhkan kehidupannya untuk mengadu nasib yang lebih baik di Spanyol. Peningkatan arus imigrasi ini berkaitan erat dengan posisi strategis Ceuta dan Melilla serta faktor pendorong di Maroko.
Ceuta dan Melilla sebagai Gerbang Eropa
Imigran menjadi suaka ke wilayah Ceuta dan Melila, kedua wilayah di Eropa tersebut dipilih karena berbatasan langsung dengan Afrika. Ceuta memiliki keberagaman penduduk yaitu anatara Muslim dan Kristiani, yang selama ini hidup berdampingan secara relatif harmonis.
Penduduk yang beragam terbentuk melalui sejarah panjang kekuasaan Spanyol sejak tahun 1580 di wilayah tersebut. Sehingga Ceuta dan Melilla memiliki karakter sosial dan budaya yang berbeda dari wilayah Maroko di sekitarnya. Meski begitu, saat ini secara resmi Maroko tidak menganggap Ceuta dan Melilla sebagai tanah teritorial dan kepunyaan Spanyol.
Mengapa Imigran Maroko Membludak ke Spanyol?
Ceuta dan Melilla telah lama menjadi titik utama arus imigrasi menuju Eropa karena keduanya dapat dijangkau melalui jalur darat. Lonjakan imigrasi juga dipengaruhi putusan terbaru Mahkamah Agung Spanyol terkait imigran yang mencapai kedua wilayah tersebut melalui laut.
Putusan tersebut menyatakan kebijakan pemulangan segera hanya berlaku bagi imigran yang melintasi pagar perbatasan, bukan mereka yang dicegat di laut. Kondisi ini dapat mempersulit proses pemulangan imigran yang mencapai wilayah Spanyol melalui jalur laut.
Pejabat Spanyol dan Maroko menunjuk putusan tersebut sebagai salah satu faktor yang mungkin mempengaruhi lonjakan terbaru, sementara para ahli imigrasi juga menyebutkan tekanan imigrasi yang lebih luas dan informasi yang salah beredar di kalangan imigran dan jaringan penyelundupan, dilansir Gemagazine dari Al Jazeera, Selasa (11/8/2026).
Penyeberangan Ilegal dan Respons Pemerintah
Hingga saat ini, sebagian besar imigran yang memasuki Ceuta dipenuhi oleh pria muda, anak-anak dan wanita yang dibawa sebagai keluarga. Jalur laut dimasuki dengan memanfaatkan area pemecah gelombang di sekitar perbatasan pantai.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengumumkan bahwa 60 anggota angkatan bersenjata akan dikerahkan ke Ceuta, bersama dengan 30 petugas Guardia Civil tambahan. “Angkatan bersenjata akan memperkuat Guardia Civil dalam menjalankan wewenangnya dan wewenang lain yang mungkin diperlukan untuk menjaga keamanan di kota Ceuta,” kata kementerian tersebut, dilansir Gemagazine dari The Guardian, Selasa (11/8/2026).
Juan Jesús Vivas, Presiden Ceuta, sampai menuntut pemerintah pusat untuk segera menyerukan fenomena ini sebagai darurat nasional. Meski begitu, pemerintah menolak untuk menyerukan statusnya sebagai darurat nasional. Bagi pemerintah, situasi saat ini belum bisa dikatakan darurat nasional.
Baru bisa dianggap darurat nasional hanya untuk peristiwa meteorologi seperti ancaman gunung berapi atau ancaman nuklir. Sementara itu, dari pihak berwenang Maroko sendiri sudah ada tindakan terhadap para imigran yang ada di perbatasan dengan melakukan tindakan tembakan gas air mata dan meriam air di dekat perbatasan untuk membubarkan massa.
Meski begitu, cukup disayangkan banyak juga anak dibawah umur yang juga ikut merasakan fenomena ini. Diperkirakan tercatat 1.000 anak yang menyeberangi perbatasan ini tinggal tanpa orang tua di negeri asing.
Kondisi Spanyol Saat ini
Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, pada Selasa (11/8/2026) menyampaikan perkiraan terbaru mengenai jumlah imigran yang memasuki Ceuta. Ia menyebut total sekitar 72.000 orang telah memasuki wilayah tersebut.
Dari jumlah tersebut, katanya, 70.000 telah kembali. Namun, pejabat setempat, Alejandro Ramírez, mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mengetahui jumlah pastinya, yang menurut perkiraannya lebih mendekati 3.000-5.000 orang yang masih berada di kota tersebut, dilansir Gemagazine dari AP News, Selasa (11/8/2026).
Perkiraan tersebut juga diperkuat oleh pihak berwenang Spanyol yang mengatakan bahwa banyak dari imigran yang kembali secara sukarela karena kesadaran diri sendiri mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk menampung para migrannya.
Lonjakan imigrasi ini juga memicu reaksi politik di dalam Uni Eropa, sejumlah politisi sayap kanan menyalahkan Spanyol atas insiden ini karena melegalkan ratusan ribu imigran ilegal tahun ini. Bahkan, Spanyol diserukan untuk dikeluarkan dari zona pergerakan bebas Schengen, hal ini diserukan oleh pemerintah sayap kanan Italia.
AA/AS
