GEMAGAZINE – Dari sebatas lingkar pertemanan, kini Alfa berada di tengah tiga lingkar besar yang menghidupi selasar sisi kolam Gedung Planetarium dan Observatorium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Ia duduk bersila, sesekali menitah seorang anak untuk melanjutkan goresan pensilnya, lalu beranjak ke lingkar lain.
Di sana, Alfa menyimak cerita para peserta remaja hingga dewasa, menimpali obrolan, hingga sesekali memberi tanggapan atas sketsa yang perlahan menemukan bentuknya. Riuh percakapan dan lembar-lembar sketsa yang memenuhi selasar sore itu menjadi bukti nyata bahwa komunitas Mari Menggambar telah berkembang.
Ruang yang dulu hanya dilingkari segelintir orang, kini telah menjadi tempat bertemunya puluhan peserta dengan latar belakang, usia, dan kemampuan menggambar yang berbeda-beda. Perjalanan itu tak lepas dari titik awal yang sederhana, jauh sebelum komunitas ini dikenal seramai sekarang.
Berawal dari Lingkar Pertemanan
Mari Menggambar tak lahir dari sebuah organisasi atau komunitas besar. Bahkan di awal, jumlah anggotanya pun dapat dihitung jari. Alfa bercerita, semuanya bermula dari sekelompok teman yang gemar berkumpul untuk mengerjakan tugas kuliah, menggambar bebas, atau sekadar menghabiskan waktu bersama. Pertemuan itu berlangsung secara sederhana, tanpa bayangan suatu hari akan berkembang menjadi komunitas yang terbuka bagi publik.
Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyadari bahwa ketertarikan terhadap seni ternyata dimiliki banyak orang di luar lingkar pertemanan mereka. Keinginan untuk mempertemukan lebih banyak orang dengan hobi serupa pun mendorong mereka mulai mendokumentasikan setiap kegiatan dan membagikannya melalui media sosial.
“Kami ingin membuka ruang selebar-lebarnya untuk teman-teman yang ingin berkarya bersama, jadi kami perlahan memberanikan diri untuk memperkenalkannya melalui dokumentasi yang diunggah ke media sosial,” ujar Alfa.
Bagi Alfa, kegiatan menggambar di komunitas ini menjadi titik temu bagi orang-orang dengan minat yang sama untuk saling mengenal, berbagi cerita, hingga menghabiskan waktu. Melalui berbagai aktivitas seperti bermain board game atau sekadar berbincang setelah buku sketsa ditutup.
Bangun Ruang Aman bagi Pecinta Gambar
Nilai yang terus dijaga oleh Mari Menggambar adalah kebebasan berekspresi, rasa kekeluargaan, dan kenyamanan. Oleh karena itu, mereka tidak pernah membedakan peserta berdasarkan kemampuan menggambar. Di satu lingkaran, seorang ilustrator berpengalaman dapat duduk berdampingan dengan peserta yang baru pertama kali memegang buku sketsa.
“Setiap orang punya keunikannya masing-masing. Kami ingin mereka berkembang dengan karakter mereka sendiri. Kalau ingin belajar dari yang lain, tentu kami sangat terbuka,” jelas Alfa.
Ketika jumlah peserta semakin banyak, admin membagi mereka ke dalam beberapa lingkaran. Bukan untuk mengelompokkan siapa yang paling mahir atau siapa yang masih pemula, melainkan agar suasana tetap kondusif dan setiap orang memiliki ruang untuk berinteraksi. Segmentasi hanya diterapkan bagi peserta anak-anak demi menjaga keamanan dan kenyamanan mereka.
Alfa bercerita bahwa suasana lingkungan yang hangat justru tercipta secara alami. Para peserta dengan kemampuan lebih tinggi tidak sungkan berbagi pengalaman, sementara mereka yang baru belajar juga berani membuka diri untuk bertanya. Peran admin lebih banyak menjaga agar ruang tersebut tetap aman dan nyaman bagi semua orang.
Belajar dari Perbedaan
Kenyamanan itulah yang dirasakan oleh Heziky Arsya, salah seorang peserta yang kini rutin datang ke pertemuan Mari Menggambar. Ia pertama kali mengenal komunitas tersebut lewat unggahan di media sosial pada Oktober 2025. Waktu itu, rutinitas hariannya yang terasa monoton membuatnya memutuskan untuk mencari aktivitas baru di luar rumah.
“Saya melihat informasi komunitas ini di Instagram. Waktu itu saya sedang tidak ada kegiatan, jadi saya memutuskan datang untuk bersosialisasi dan menggambar bersama,” ujar Heziky.
Keputusan sederhana itu ternyata membawanya datang berkali-kali, bukan hanya karena kegiatan menggambar, tetapi juga suasana yang menurutnya menyenangkan. Di setiap pertemuan, ia duduk di lingkaran yang berbeda-beda, bertemu orang-orang dengan gaya ilustrasi, minat, bahkan fandom yang beragam.
Heziky menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan menggambarnya banyak dipengaruhi oleh proses saling berbagi yang terjadi di setiap pertemuan. Ia yang sebelumnya belum menguasai ilustrasi digital kini mulai memahami berbagai teknik baru melalui diskusi dengan anggota lain. Proses belajar itu berjalan santai, tanpa tekanan untuk cepat mahir.
“Di sini kami bisa saling bertanya, berbagi teknik, dan saling memberikan masukan. Saya sendiri jadi banyak berkembang, terutama dalam menggambar digital,” jelas Heziky.
Kala mentari mulai berpamitan, selasar Gedung Planetarium dan Observatorium masih dipadati peserta yang asyik menuntaskan gambar mereka. Perlahan, satu per satu mulai merapikan pensil, buku sketsa, dan peralatan gambar mereka masing-masing. Sebagian masih asyik berbincang, sementara yang lain memilih melanjutkan permainan mereka.
Di tempat itu, yang dibawa pulang bukan hanya lembar-lembar sketsa yang telah terisi, melainkan juga pertemanan baru dan pengetahuan yang terus bertambah. Setiap pertemuan seolah menegaskan satu keyakinan yang sama, bahwa siapa pun selalu memiliki ruang untuk berkarya bersama.
(NH/AAR)
