GEMAGAZINE — Lihat, jepret, upload. Begitulah siklus foto di era sekarang. Tapi di tengah kecepatan itu, justru semakin banyak anak muda yang memilih memperlambat segalanya dengan kamera film. Fenomena ini bukan sekadar tren estetika, melainkan sebuah pergeseran cara pandang terhadap fotografi itu sendiri.

Foto: Muhammad Rafi Arga Saputra
Siapa sangka, di tengah dominasi smartphone dengan teknologi layaknya kamera profesional, penjualan film analog justru terus meningkat. Kodak Alaris mencatat kenaikan permintaan film secara konsisten sejak awal 2020-an. Di Indonesia sendiri, komunitas pecinta kamera analog seperti Photo Walk Ramean (PWR) aktif menggelar aktivitas photowalk — berkumpul, jalan-jalan bareng dan memotret suasana sekitar, dengan anggota yang didominasi generasi muda yang bahkan tidak pernah hidup di era sebelum digital.

Foto: Muhammad Rafi Arga Saputra
Fenomena ini sering disebut sebagai slow photography sebuah counter culture terhadap budaya instan yang mendorong fotografer untuk lebih sadar dan penuh pertimbangan dalam setiap jepretan.
Bagaimana Proses Fotografi Analog Bekerja?
Berbeda dari kamera digital yang memberikan kebebasan memotret tanpa batas, fotografi analog memiliki prosesnya sendiri yang justru menjadi daya tariknya.
Berikut prosesnya secara sederhana:
- Memilih film
Kamera analog membutuhkan rol film untuk menangkap gambar. Pilih jenis film sesuai kebutuhan lalu perhatikan juga nilai ISO-nya, ISO 200 ideal untuk kondisi cahaya terang di luar ruangan, ISO 400 serbaguna untuk berbagai situasi, dan ISO 800 ke atas digunakan saat cahaya minim. - Loading film ke kamera
Proses loading atau memasukkan film ke dalam kamera perlu dilakukan dengan hati-hati. Buka bagian belakang kamera di tempat yang teduh atau tidak terkena sumber cahaya langsung untuk menghindari film terbakar. Masukkan Cassette Shell ke sisi kiri, tarik ujung pita film hingga mencapai sproket di sisi kanan, lalu pastikan lubang-lubang film tersangkut dengan benar sebelum menutup kamera. - Memotret
Di sinilah perbedaan yang paling terasa. Satu rol film hanya berisi 24 atau 36 frame dan tidak bisa dihapus jika hasilnya kurang memuaskan. Maka dari itu setiap jepretan membutuhkan pertimbangan. Cek pencahayaan, atur aperture dan shutter speed secara manual, serta pastikan fokus sudah tepat sebelum menekan rana. - Menggulung film setelah selesai
Tanda setelah seluruh frame terpakai, kamera akan terasa lebih berat saat menggulung.Untuk kamera manual, putar tuas penggulung searah jarum jam sampai tarikannya terasa ringan kembali, tandanya seluruh film sudah aman masuk ke dalam Cassette Shell. Tapi beberapa jenis kamera punya fitur auto-rewind, kamera akan menggulung filmnya sendiri secara otomatis. Jangan sekali-kali membuka kamera sebelum proses ini selesai karena seluruh film bisa terbakar terkena cahaya. - Proses cuci cetak di lab
Film yang sudah penuh diserahkan ke lab foto untuk diproses secara kimiawi. hasilnya baru bisa dilihat setelah proses selesai, biasanya antara satu hingga beberapa hari tergantung lab. Proses ini melibatkan pengembangan negatif film, kemudian mencetak atau memindai gambar ke format digital.
Di sinilah letak keistimewaannya. Ketidaktahuan akan hasil foto hingga film selesai dicuci menciptakan rasa penasaran yang tidak akan pernah bisa dirasakan dari kamera digital.
Analog dan Digital: Apa Kelebihan dan Kekurangannya?
Dari sisi estetika, analog menawarkan grain alami dan tone hangat yang sulit ditiru digital. Namun dari segi biaya, analog jauh lebih mahal karena setiap rol film dan proses cuci cetak memerlukan pengeluaran tersendiri. Sementara digital praktis tanpa biaya tambahan setelah pembelian kamera.
Soal kemudahan, digital jelas lebih ramah pemula karena hasil langsung terlihat dan kesalahan bisa langsung diperbaiki. Justru keterbatasan analog yang memaksa fotografer memahami teknik dasar secara lebih mendalam. Tidak ada preview instan, tidak ada opsi hapus. Bagi penggemarnya, ketidakpastian itulah yang menjadi daya tarik tersendiri.
Fotografi analog mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan di era digital, bahwa proses panjangnya adalah bagian dari karya. Ketika setiap frame terasa berharga, fotografer terdorong untuk lebih sadar soal cahaya, komposisi, dan momen.
(KF)
