Risiko Jurnalis Meliput Gunung Anak Krakatau

Foto: Abie Putra

GEMAGAZINE – Peran penting jurnalis dalam memberikan informasi kepada publik menuntut peliputan langsung di berbagai situasi dan kondisi termasuk di wilayah rawan bencana. Lima jurnalis hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Banten, pada Senin(7/9/2026). Kejadian tersebut menempatkan keselamatan jurnalis dalam risiko saat menjalankan tugas di lapangan.

Risiko keselamatan bukan persoalan baru dalam pekerjaan di bidang jurnalistik. UNESCO mencatat bahwa sedikitnya 68 jurnalis dan pekerja media gugur dalam menjalankan tugas sepanjang 2024, dengan lebih dari 60 persen kasus terjadi di negara-negara konflik. Data tersebut menunjukkan bahwa peliputan di lapangan  dapat menempatkan pekerja media pada situasi yang berisiko.

Peliputan di wilayah yang berisiko membutuhkan persiapan dan penilaian keselamatan. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyediakan perangkat penilaian risiko untuk membantu jurnalis mengenali potensi bahaya sebelum bertugas. Langkah tersebut penting agar tugas jurnalistik tetap berjalan tanpa  mengabaikan keselamatan di lapangan.

Risiko di Balik Peliputan Lapangan Oleh Jurnalis

Peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu contoh ketika tugas jurnalistik dilakukan di wilayah dengan kondisi yang dinamis. Rombongan berangkat menggunakan speedboad Arupadhatu 1 dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (07/09/2026) sekitar pukul 14.00 WIB untuk melakukan peliputan. Komunikasi terakhir tercatat sekitar pukul 14.42 WIB sebelum terputus pada pukul 15.04 WIB.

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan liputan tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Mereka berada dalam satu kapal bersama tiga orang lainnya, yaitu Warta sebagai nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto sebagai pemandu. Hingga laporan terbaru pada Minggu (13/09/2026), keberadaan orang tersebut masih dalam pencarian Tim SAR Gabungan.

Pencarian awal dilakukan melalui jalur laut dan udara dengan memperluas sektor penyisiran. Dalam operasi sebelumnya, Tim SAR menemukan empat benda berupa satu jeriken, satu helm, dan dua jaket perairan sebelah selatan Gunung Anak Krakatau. Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan sektor penyisiran pada operasi berikutnya.

Upaya Pencarian Masih Berlangsung

Memasuki hari keenam, Tim SAR Gabungan memfokuskan pada pencarian di Sektor X, wilayah perairan sebelah selatan Gunung Anak Krakatau. Delapan kapal dikerahkan untuk menyisir sektor tersebut dengan luas sekitar 681 mil laut persegi, sementara keseluruhan operasi melibatkan 15 kapal, satu helikopter, dan 300 personel gabungan.

“Untuk hari keenam ini, kita fokuskan di Sektor X. Karena dari pelaksanaan operasi SAR sebelumnya terdapat beberapa temuan yang menjadi pertimbangan untuk pelaksanaan operasi SAR hari ini,” ujar Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, dilansir GEMAGAZINE dari situs resmi ANTARA pada Minggu (13/9/2026).

Berdasarkan data BMKG yang dikutip oleh ANTARA, kondisi perairan Selat Sunda pada Minggu (13/09/2026) berawan dengan kecepatan angin 10-20 knot dan tinggi gelombang 0,5-2,5 meter. Arus permukaan bergerak ke arah barat daya. Tim SAR masih mengevaluasi temuan yang berpotensi memberikan petunjuk mengenai keberadaan kedelapan orang hilang tersebut. Hingga perkembangan tersebut, kelima jurnalis dan tiga orang awak kapal masih dalam pencarian.

Keselamatan Jurnalis Tetap Menjadi Prioritas

Dewan Pers menyerukan kepada jurnalis dan perusahaan media untuk menempatkan keselamatan jiwa sebagai prioritas dalam menjalankan tugas jurnalistik. Seruan tersebut disampaikan setelah lima jurnalis hilang saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 10/09/2026.

Dalam pernyataannya, Dewan Pers meminta jurnalis yang bertugas di medan bencana untuk mematuhi zona aman yang ditetapkan oleh otoritas resmi. Jurnalis juga diminta menggunakan alat pelindung standar serta berkoordinasi dengan petugas penanggulangan bencana sebelum dan selama melakukan peliputan.

Dewan Pers menyebut kondisi cuaca, gelombang laut yang tinggi, dan semburan abu vulkanik yang masih fluktuatif sebagai tantangan dalam proses pencarian. Dewan Pers juga akan terus memantau perkembangan pencarian dan berkoordinasi dengan posko SAR. Organisasi profesi jurnalis untuk memperoleh informasi terbaru mengenai keberadaan para jurnalis tersebut.

MN/KF

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *