Dan pada waktunya tidak ada yang menang Ego dan emosi berotasi pada sumbu yang sama Suaraku tak sampai pada kata Tak ada lagi sisi warasku Padahal mereka bilang, Semua orang pantas untuk memiliki mimpi Semua orang pantas untuk berjuang Semua orang pantas untuk berdiri di podium Tapi, Mengapa sayapku dipatahkan Bahkan sebelum aku bisa terbang Hanya kakiku yang melayang Atau aku hanya berhalusinasi Menciptakan sayap pada dimensi baru Berharap bisa menopangku Hingga podium menjadi milikku Kontributor: Margareth Srinauli Penyunting: Gita Indi Maharani Foto: Unsplash
-
-
Tuhanku pernah berkata “Teruslah berharap, akan kubasuh setiap luka-luka” Bulir-bulir air mata, asa yang tergerus Sajak-sajak nestapa telah ku gaungkan Akankah Tuhanku mendengar? Nyanyian pilu seorang perwira bumi, yang cemas akan mati Sang perwira ingin menepi Pendar akhir hidup sudah terlihat Sudahkah ia pantas untuk pulang? Kontributor: Gita Indi Maharani Penyunting: Farah Andini Foto: Unsplash
-
Di bawah terik daku berdiri Bersandar rasa kesal yang menjulang tinggi Melihat alur yang tak kunjung berhenti Terpaku daku di bawah gelapnya malam Gemuruh … Gemuruh guntur terdengar Kerasnya tali mengikat sekujur tubuhku Membekukan seluruh nadiku Daku terbaring di istana elok ini Diam … Diamlah … biarkan daku terbiasa Di bawah sisa-sisa rintik daku terduduk Terbiasa menghitung waktu yang kian berlalu Mataku terpejam seiring teriakan yang semakin mencekikku Gemuruh … Gemuruh kian menggoncang Lunaknya benang berhasil memilin akalku Mencairkan seluruh egoku Daku terpesona tutur kata sang raja Diam … Diamlah … biarkan daku berkompromi akan suasana ini…
-
Lebaran kali ini Tak ada pelukan Untuk meredakan Rindu yang tertahan Lebaran kali ini Lagi-lagi kau menggenggamnya Dengan benda pipih Yang saling terjalin Oleh benang tak kasat mata Lebaran kali ini Cukup kau tekan tombol daya Lalu pesan muncul silih berganti “Taqabbalallahu minna wa minkum” “Minal aidin wal faizin” “Mohon maaf lahir dan batin” Lebaran kali ini Di depan layar kaca Ada air mata Namun tak dapat kau usap Sepenuh hati kau selalu berharap Semoga raga dapat segera bersua Kontributor: Zikra Mulia Irawati Penyunting: Farah Andini Ilustrasi: Unsplash/Zibik
-
Wujud antara ada dan tiada Namun memang nyata adanya Siapa sangka makhluk kecil dapat membawa bencana Hari-hari pelik karena datangnya virus corona Dunia gempar sungguh tak karuan Namun manusia masih saja sering menghiraukan Rasa saling peduli harus ada dan ditumbuhkan Jangan mementingkan diri sendiri dengan tidak memperdulikan keadaan Jangan menutup mata dan telinga seolah semua sedang baik-baik saja Harus diterima baik oleh kenyataan Bahwa hidup dengan kebiasaan baru segera kita lakukan Jika keadaan sulit sekarang ingin segera selesai Maka kesadaran baru harus segera dimulai Tak perlu menunggu banyak nyawa melayang Memulai hal baik bisa dimulai dari sekarang…
-
Hidup ini terlalu ambigu Banyak teka-teki yang tak terpecahkan Susunan puzzle yang belum lengkap Membuat otak berpikir keras Kepahitan yang tak berujung Nestapa yang tak kunjung reda Membuat hidup terasa hampa Terlalu sakit jika dirasa Sesak! Tak ada satu pun yang mengerti Rasanya aku sendiri Di dunia yang luas ini Aku berusaha memahami Tapi tak ada timbal balik Mengapa semesta begitu kejam? Ataukah aku terlalu perasa? Aku merasa terkucilkan Hidup ini tak adil! Mengapa orang lain terlihat bahagia? Sedangkan aku tidak? Ternyata… Emosi terlalu menguasaiku Rasa iri mengisi dadaku Jika saja aku bisa mengontrol diri Aku tak akan sepayah ini…