Foto: Pexels.com

Gemagazine — Uni Emirat Arab (UEA) resmi keluar dari OPEC pada 1 Mei 2026 setelah hampir enam dekade menjadi anggota sejak 1967. Keputusan tersebut dinilai akan melemahkan OPEC karena kapasitas cadangan minyaknya menurun, mengingat UEA merupakan salah satu produsen terbesar dalam organisasi tersebut. Kalangan analis juga memperkirakan bahwa keluarnya UEA membuat OPEC kehilangan sekitar 15 persen kapasitasnya, dilansir Gemagazine dari Antara News pada Senin (04/05/2026).

Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Afra Mahash Al Hameli, menyatakan keputusan keluar dari OPEC merupakan pilihan berdaulat dan strategis. Ia menyebut langkah tersebut berlandaskan visi ekonomi jangka panjang serta akan memberikan fleksibilitas lebih besar dalam memanfaatkan kapasitas energi, memperkuat pembangunan nasional, meningkatkan kepercayaan pasar, dan mendukung stabilitas energi global.

UEA juga menyatakan akan tetap bekerja sama erat dengan para mitra serta memperdalam kerja sama bilateral dan multilateral. Selain itu, UEA menegaskan akan tetap berkontribusi pada pasar yang stabil dan berfungsi dengan baik setelah keluar dari kelompok tersebut.

Mengenal OPEC

OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) merupakan organisasi negara-negara pengekspor minyak yang didirikan pada 1960 oleh Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela.

OPEC memiliki tujuan untuk mengoordinasikan dan menyatukan kebijakan perminyakan negara anggota guna menjaga stabilitas harga, menjamin pasokan minyak yang efisien dan teratur, serta memberikan keuntungan yang adil bagi investor yang terlibat dalam industri minyak, dilansir Gemagazine dari situs resmi OPEC pada Senin (04/05/2026).

Seiring perkembangannya, OPEC memiliki anggota dari berbagai kawasan. Negara anggota yang tercatat meliputi Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Venezuela, Libya, Uni Emirat Arab, Aljazair, Nigeria, Gabon, Guinea Khatulistiwa, dan Republik Kongo. Setelah Uni Emirat Arab keluar pada 1 Mei 2026, jumlah anggota OPEC menjadi 11 negara.

Sementara itu, OPEC+ muncul pada 2016 sebagai kerja sama antara OPEC dan negara penghasil minyak non-OPEC yang mencakup negara Rusia, Azerbaijan, Kazakhstan, Bahrain, Brunei, Malaysia, Meksiko, Oman, Sudan Selatan, dan Sudan. OPEC+ dibentuk untuk mendukung stabilitas pasar minyak, dilansir Gemagazine dari Aljazeera, Senin (04/05/2026).

Alasan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC

Uni Emirat Arab menyatakan keputusan keluar dari OPEC dan OPEC+ diambil sebagai bagian dari kebijakan energi nasional dan strategi jangka panjang negara tersebut. Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed Al Mazrouei, mengatakan langkah itu dilakukan setelah meninjau kebijakan produksi minyak saat ini dan masa depan, dilansir Gemagazine dari Reuters pada Rabu (06/05/2026).

Keluarnya UEA membuka peluang bagi negara tersebut untuk meningkatkan produksi minyak mereka. Selama berada di OPEC, UEA terikat kuota produksi yang ditetapkan bersama anggota lain. Dengan keluar dari organisasi itu, UEA memiliki keleluasaan lebih besar dalam menentukan tingkat produksi minyaknya sendiri.

Peningkatan kapasitas produksi UEA dinilai dapat menarik investasi lebih besar dari perusahaan Amerika Serikat. J.P. Morgan menyebut target kapasitas 5 juta barel per hari pada 2027 berpotensi meningkatkan produksi dan ekspor minyak UEA sekitar 1,5 juta barel per hari dari level saat ini.

Dampak Terhadap Harga Minyak Dunia dan Ekonomi Global

Keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC dan OPEC+ diperkirakan memberi dampak besar terhadap harga minyak dunia karena organisasi tersebut selama ini berperan mengatur produksi untuk menjaga stabilitas harga.

Dengan keluarnya UEA, kemampuan OPEC dalam mengendalikan pasokan minyak menjadi melemah, terutama karena UEA merupakan salah satu produsen minyak terbesar dalam organisasi tersebut. Meski demikian, UEA menyatakan akan bertanggung jawab dengan rencana meningkatkan produksi minyak secara bertahap, sehingga berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga minyak dunia.

Di sisi lain, dampak terhadap ekonomi global dapat bersifat ganda tergantung kondisi pasar energi dunia. Harga minyak yang lebih rendah dapat membantu menekan inflasi, mengurangi biaya energi dan transportasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di negara-negara pengimpor minyak.

Namun, UEA keluar dari OPEC di tengah konflik kawasan Timur Tengah dan gangguan pasokan energi global akibat ketegangan di Selat Hormuz. Sehingga dalam jangka pendek harga minyak masih berpotensi mengalami lonjakan dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi global.

Secara keseluruhan, keluarnya UEA dinilai dapat melemahkan pengaruh OPEC di pasar energi global sekaligus membuka peluang bertambahnya pasokan minyak dunia. Namun, konflik dan gangguan distribusi di Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasar energi global.

(NH)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *